Menu

Tanah Gumantar

Berbicara Desa Gumantar, maka tidak habis-habisnya kita dihadapkan pada hal-hal menarik dari adat istiadat warga yang ada di Desa. Desa Gumantar dikenal dengan wet adat Gumantar Pengorongan Amor-amor, wet adalah wilayah. Seperti Desa lain di Lombok Urata, Bayan misalnya, Gumantar juga dikenal dengan sebutan adat Wetu Telu, sebuah adat yang memegang prinsip hidup terdiri dari tiga hal yaitu Melahirkan, Bertelur dan Bertunas. Arti lain juga bahwa wetu telu itu hidup manusia diatur dengan tiga hukum yaitu Agama, Adat dan Pemerintah. Wetu artinya wilayah atau bagian , Telu artinya tiga.

Untuk memperjelas cerita sekilas gumantar, saya mencoba untuk menemui pak Japarti (Kepala Desa Gumantar) dan beberapa tokoh lainnya seperti Putradi, Majidap, Sudiarti dan masih banyak lagi orang-orang yang menjadi orang penting yang ada dalam wet adat Gumantar. Setelah bertemu dengan orang-orang penting ini, saya bisa menyimpulkan bahwa Gumantar yang terkenal dengan wetu telunya tidak seperti wet adat lain yang ada di Desa Sesait, Salut atau Bayan yang terkenal dengan wetu telu. Banyak hal yang ternyata di wet adat Gumantar tidak bisa kita temui walaupun di wet adat lain di Lombok Utara bisa banyak kita jumpai. Seperti Berem (Arak dari ketan) misalnya, masyarakat gumantar sangat anti dengan minuman ini dan itu sejak nenek moyang mereka memang sangat dilarang, jelas pak Sudiarti, meski ditempat adat lain minuman itu banyak dan lumrah kita temukan.

Saya bersama dengan enam orang yang berasal dari desa tersebut kala itu hendak menuju Tiu Ngumbak, sebuah tempat wisata air terjun yang letaknya sekitar 3,5 km dari rumah penduduk setempat. Sepanjang perjalanan, mata memandang kami disuguhkan dengan dedaunan hijau dari pepohonan besar tegak berdiri kokoh lahan tersebut, suara burung berkicau di ranting-rangting pepohonan kopi,durian,kakao dan pohon pisang yang tersebar merata dilahan hamparan yang kami lewati sepanjang jalan.

Dalam perjalanan, kamai menyisir jalan setapak yang menjadi akses jalan masyarakat dari kampung ke lahan di sekitarnya, terlihat sekelompok orang sedang membersihkan lahan kebun mereka, kami pun berhenti sejenak dan bertanya. Buk, kayunya banyak sekali ? Bagaimana kopi yang Ibu tanam bisa tumbuh dengan baik dan berbuah banyak?

Ibu-ibu tadi menjawab, kami tidak berani menebang kayunya. Loh kanapa ? tanggap ku. Si Ibu pun menjawab. Kami takut kalau kayu itu ditebang justru kami akan dikejar oleh orang kehutanan. Ujar si ibu menjelaskan padaku. Akupun bertanya kembali. Lantas kanapa tidak ditebang Ibu ? tanyaku. Si Ibu pun menjawab, entahlah nak ibu juga tidak tau nak. Jawab si Ibu. Sambil melihat dan duduk sejenak menghirup udara segar didalam hutan sambil birbincang bersama si ibu tadi, terlintas dibenak ku dan berfikir, lalu Tanah ini milik siapa ?

Sepulang dari air terjun tiu ngumbak bersama lima orang teman lainnya, saya terus kepikiran betapa sulitnya penghidupan warga yang tinggal di sekitar terjun itu untuk mengakses lahan mereka, walaupun mereka yang menanam dan memelihara hutan namun mereka tidak bisa mengambil kayunya. Hal itu terus tergiang dibenakku sampai pada akhirnya saya memberanikan diri bertemu dengan Sahir Kadus Dasan Belek dan Jumayar salah seorang pencinta adat dan wisata di desa tersebut, pertama kali bertemu mereka di rumah adat dasan belek hal yang paling awal saya tanyakan adalah terkait keberadaan warga yang mengelola tanah sekitar Tiu Ngumbak.

Dari penjelasan Sahir, tanah itu memang dulunya pemukiman warga Gumantar, terbukti memang dengan banyak batu-batu sisa kuburan disekitaran tempat tersebut, itu membuktikan kata-kata Sahir bahwa memang pada zaman nenek moyang mereka tanah itu didiami warga Gumantar. Namun sejak tahun 1990 tanah itu diklaim oleh kehutanan dan diadakannya penanaman sengon pada tahun 1996-1997 sampai sekarang yang pohon sengonnya tidak ditebang karena tanah hutan, kata sahir. ” dulu perjanjiannya saat ditanam kayu itu bisa ditebang dengan sistim bagi hasil, tapi nyatanya sekarang warga mengambil kayu saja ditangkap oleh pihak polisi hutan (POLHUT)”.

Menariknya GUmantar karena beberapa hal sebagai berikut:

Aji Lawat

Sebuah ritual yang terdiri dari tiga rangkai kegiatan, adat yang biasa dirayakan warga Gumantar saat tiba musim tanam di Desa. Sebagian besar warga gumantar adalah petani, pekebun, buruh dan meski sebagian ada yang menjadi nelayan dan pegawai swasta. Karena sebagian besar warga adalah petani, setiap saat akan musim tiba masa tanam warga selalu mengadakan hajatan Aji Lawat. Tahapan Aji Lawat saat warga berkumpul bersama untuk membahas dan hari dimulainya musim tanam setiap tahunnya, dilanjutkan dengan pembersihan lahan secara berkelompok yang menggambarkan kebersamaan mereka dan saling membantu satu sama lain, setelah ladang mereka siap untuk ditanami, warga memulai acara syukuran mengumpulkan sanak saudara dan tokoh adat dengan makan bersama, doa bersama dan memberikan pengorbanan kepada tuhan sebelum menanam supaya tanaman mereka sehat, terjaga dan memperoleh hasil yang banyak dan membawa manfaat, makanan yang dimasak penyajiannya harus menggunakan tanaman alam seperti daunpisang, wadah ancakdari bambu, dan alat lainnya dari bahan alam, tidak boleh menggunakan alat makanan yang dibeli seperti piring misalnya atau yang sejenisnya.

Gawe Belek

Gawe artinya Pesta, Belek artinya Besar. Gawe belek berarti pesta atau syukuran massal yang diadakan oleh warga Gumantar secara bersamaan di tempat yang sama atas hajatan dari warga yang memiliki hajat pesta. Gawe belek biasanya dilakukan warga yang berkehendak mengadakan pesta pernikahan atau sunatan, gawe belek ditunjukan untuk meringankan beban saudara-saudara mereka dalam menunaikan hajatan pesta nikah ataupun sunatan tersebut. “Bayangkan saja, kalau pesta sendiri warga butuh puluhan juta untuk perayaannya, kalau gawe belek warga paling menyiapkan uang 2 sampai 3 juta saja sudah cukup” ujar Putradi menjelaskan kepada saya saat ditemui di rumahnya. Gawe belek biasanya mengumpulkan lima belas sampai dua puluh lima orang yang berhajata pesta, baik itu pesta sunatan atau pernikahan.

Maulid Adat

Maulid Adat adalah acara perayaan maulid Nabi Muhammad SAW seperti diwilayah lain atau yang biasa kita dengar, hanya saja maulid adat di Gumantar berbeda karena pelaksanaannya yang sangat unik, dalam perayaan maulid adat ada acara peresean (sebuah adat adu keberanian masyarakat Lombok),pada acara maulid adat diawali dengan peresean (adu fisik) oleh 2 orang perempuan terlebih dahulu sebelum peresean selanjutnya dilakukan oleh laki-laki, jika belum dilakukan peresean oleh kaum perempuan maka laki-laki tidak boleh melakukan peresean tersebut dengan alasan apapun, peresean biasanya diadakan pada malam hari. Acara sakral lainnya adalah saat mencuci beras untuk dimasak dalam acara tersebut, beras dicuci ke sebuah sungai yang ditunjuk khusus oleh tetua adat sambil diiringi gamelan, tabuhan gamelanpun berbeda dengan gendingan yang ditabuh untuk mengiring saat pergi dengan saat pulang dari mencuci beras tersebbut, yang mencucinyapun para wanita yang berjalan bersamaan dengan memakai pakaian adat setempat perempuan yang dilakukan ritual inipun harus perempuan suci dalam artian tidak sedang haid (menstruasi). Maulid adat sangat meriah karena sekian dusun berkumpul di tempat acara dan makan serta doa bersama, acara dimaksudkan untuk mempererat hubungan keluarga dan mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Mbuang Au

Mbuang adalah sebutan untuk akikah bagi anak yang baru lahir di desa oleh warga Gumantar, namun akikah versi adat gumantar tergolong lain dari akikah yang biasanya dilaksanakan warga di desa lain (luar adat). Anak yang diakikahkan harus dibuatkan kain khsus, Umbak Kombang warga Gumantar biasa menyebutnya, kain yang dibuat dengan benang matak hasil tenun penggantih adat Gumantar disesuaikan dengan jenis kelamin anak yang laihir dan tergantung jumlah saudaranya. Pembuatan kain menggunakan benang matak yang dibuat menggunakan bonga atau kapas lokal yang mengnakan bonga atau kapas lokal yang memang ditanam oleh nenk moyang mereka sejak zaman penjajahan Belanda, uniknya ada kepeng bolong (koin) yang diikatkan dalam kain tadi, jumlah koin tergantung pada jumlah saudara laki-laki atau perempuan si anak yang baru lahir.

Menggantih

Dari sekian banyak adat tradisi adat Dasan Belek Gumantar, masih banyak lagi adat yang mungkin tidak tertuang dalam tulisan ini, namun apa yang saya tuliskan adalah bagian penting dari adat yang ada bagi warga Gumantar. Salah satunya adat Menggantih (memital benang) untuk membuat kain bagi warga masyarakat adat Gumantar selain masalah hak kelola kawasan hutan adalah minimnya minat anak-anak untuk melanjutkan tradisi menggantih tersebut, padahal benang hasil menggantih mesti digunakan dalam ritual adat di Desa. persoalan inti di Desa Gumantar adalah persoalan Hutan dan Generasi penerus Adat Gumantar. Sekalipun persoalan-persoalan kecil seperti mendorong lagi peningkatan pelayanan di desa juga perlu dilakukan. Pada bulan Juni 2018 LSM SAMANTA yang bergerak didalam mendorong akses kelola hutan bagi masyarakat adat. Untuk menjawab persoalan masyarakat pada ketidak pastian pengelolaan kawsan hutan seluas 372,75 hektar di Desa Gumantar, SAMANTA mencoba melakukan pertemuan semua pihak yang berkepentingan pada kawasan tersebut baik Pemdes, masyarakat dan KPH di Lombok pada bulan Agustus 2017. Pada tahun 2017 juga terbentuk kelompok Sanggar Belajar Adat yang dibentuk di Dusun Tenggorong, tujuan dibentuknya lembaga Sanggar ini adalah Sanggar terfokus pada pengembangan sekolah tenun adat, mengingat pengerajin tenun digumantar hampir tidak ada generasi muda, semuanya adalah para ibu-ibu tua yang sudah renta dan lemah.

Pemital Benang

Memital benang untuk bahan baku kain tenun dan pelengkap upacara adat sudah semakin jarang dilakukan di Desa Adat Gumantar, Kecamatan Kayangan Lombok Utara. Terdapat sejumlah perempuan pemital benang yang sudah berusia lanjut dua diantaranya berusia lebih dari seratus tahun, ditengah perkembangan teknologi para pemital tua ini masih bertahan menjaga tradisi warisan leluhur mereka di Dusun Dasan Beleq Desa Gumantar yang masih menjaga tradisi memital benang untuk keperluan upacara adat. Tujuh orang pemital yang tersisa di Desa Gumantar masih bertahan dua di antaranya telah berusia lebih dari seratus tahun namun mereka masih cekatan memutar gentian atau alat pemital benang yang terbuat dari kayu hutan dan telah berusia ratusan tahun, alat pemital benang tradisional itu adalah peninggalan turun temurun leluhurnya. Putradi kepala Dusun Tenggorong Desa Gumantar, jumlah pemital sebenarnya 15 orang tapi hanya 7 yang masih aktif adalah Sayurim diusianya yang ke 98 tahun dengan tangan-tangannya yang penuh kerutan masih begitu cekatan dan gemulai bagi menari memutar gentiang dengan tangan kanannya, sementara telunjuk jari tengah dan jempol kirinya mengurangi kapas menariknya perlahan dan terpilin menjadi segaris benang dan tergulung pada kisi atau bagian dari alat pemital benang. Masalah yang dihadapi para pemital dan penenun di desa gumantar saat ini adalah minimnya bahan baku kapas, saat ini sudah jarang orang menanam kapas, kadangkala para pemital harus mencari kapas di desa tetangga itupun jika tersedia, warga gumantar berharap pemerintah turun tangan menyediakan kapas untuk kebutuhan memital karena benang di gumantar sangat dibutuhkan untuk keperluan upacara adat. Sumirip juga demikian tinggal sebatang kara di rumahnya yang sederhana tak membuatkan meninggalkan tradisi memital benang hanya saja minimnya kapas membuatnya harus beristirahat sementara waktu baginya menjaga tradisi adalah kewajiban yang akan dijalaninya seumur hidupnya. Apa yang dilakukan papuk mesih sayurim murip, suniklim dan para pemital lainnya di gumantar hingga kini adalah sebuah kesetiaan menjaga dan menjalankan warisan leluhur meski jaman terus berubah dan berkembang mereka masih tetap berpegang pada prinsip menjaga yang punah dan merawat yang akan tumbuh.

Pemuda Adat Belajar Melek Media

Puluhan Pemuda Adat Desa Gumantar, mulai melatih diri foto dan video, di antara mereka bahkan belajar mewancarai sejumlah orang di Desa Adat. ” ini adalah pelatihan yang membuat mereka melek media, kita ingin anak-anak pemuda adat ini siap menghadapi arus bohong, termasuk berita yang keliru mempersiapkan mereka selaku masyarakat adat, “kata Dwi Sudarsono, Direktur Samanta, Lembaga yang eksis mengadvokasi masyarakat Adat dan Lingkugan. Puluhan anak-anak muda di desa adat gumantar, dilatih mengenal jurnalistik, mengenal fotografi dan video jurnalistik, mereka juga diberikan pemahaman soal kode etik jurnalistik. Selain agar siap menjadi jurnalis warga, mereka juga melek media dan anti menyebar hoak serta tak mudah terjebak berita hoaks. Pada hari itu mereka praktik sederhana, dari teori yang diberikan kawan Aji Mataram, dan kami masih akan memberikan pemahaman soal media dan UU ITE pada mereka, apalagi mentri kominfo mebar sosialisasi soal anti hoaks, masyarakat adat juga punya hak untuk itu. ” Kami terus terang sedih ketika media yang ada selama ini, banyak yang salah mebahasakan soal Wetu Telu, nah kami ingin menuliskan sendiri dengan cara yanga benar ” kata Murdiawan. Sebagian pemuda mengaku selama ini harus mengahadapi anggapan orang yang salah menghadapi kesalahfahaman soal Wetu Telu. “Mereka selalu menganggap Wetu Telu sebagai agama. Wete Telu Adalah Budaya leluhur kami, kami diajarkan acara hidup dan menjaga alam”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *