Temu Usaha “Proyek Membangun Wirausaha Perhutanan Sosial yang Produktif dan Berkelanjutan di Provinsi NTB”

Peserta Temu Usaha Melihat dan Mencicipi Langsung Hasil Produk Kelompok

SAMANTA_Salah satu hasil dari proyek MCAI “Membangun Wirausaha Perhutanan Sosial yang Produktif dan Berkelanjutan di Lombok Tengah, Provinsi NTB” adalah terbentuknya 3 kelompok usaha ekonomi, yaitu Titian Rinjani, Suli Asli dan Maju Bersama. Saat ini ketiga kelompok usaha telah memiliki Sertifikat Produksi PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Ada 6 Sertifikat Produksi PIRT yang dimiliki 3 kelompok usaha, dengan jenis produk di antaranya:

 1. Kelompok Titian Rinjani dengan serifikat untuk jenis produk hasil olahan buah dan biji-bijian dan umbi, olahan  buah dan olahan tepung.

 2. KWT Suli Asli dengan serifikat untuk jenis produk hasil olahan biji-bijian dan umbi dan olahan buah.

 3. Kelompok Industri Pengolahan Kacang Mete “Mareje” dengan serifikat untuk jenis produk hasil olahan biji-  bijian dan umbi.

Dwi Sudarsono (Direktur Samanta) menyampaikan pengurus ke tiga kelompok usaha tersebut telah mengikuti berbagai pelatihan, study banding dan magang dengan berbagai materi, seperti pengolahan (processing), pengemasan, pemasaran dan sebagainya. Mereka juga telah memiliki rumah produksi dan berbagai peralatan produksi dan pengolahan. Bahkan meraka telah memiliki kemasan (lebel) produk dengan standar yang memenuhi pasar menengah atas.

Salah satu tujuan acara Temu Usaha ini akan mempertemukan 3 kelompok usaha dengan para pengusaha/pembeli potensial yang diharapkan membeli produk kelompok. Selain itu, temu usaha juga mengundang aparat dari lembaga pemerintah daerah terkait. Mereka akan bertemu untuk membahas standar produk, harga, cara jual beli, dan sebagainya.

Dari penjelasan Dwi Sudarsono, penjualan merupakan factor kunci keberhasilan sebuah usaha. Sebagus dan sebaik apapun standar produk usaha, jika tidak terjual, maka akan mengalami kegagalan. Persoalan yang dihadapi oleh kelompok usaha adalah jaringan pasar terbatas, bahkan ada kleompok yang belum memiliki jaringan pasar. Oleh karena itu, kelompok membutuhkan jaringan pasar yang secara konsisten membeli produk kelompok sehingga produk kelompok dapat dijual dalam skala lebih luas.

Kelompok Suli Asli dan Titian Rinjani telah memasarkan produk mereka di pasar tradisional sampai di kabupaten Lombok Timur. Mereka belum memiliki pasar untuk produk kemasan berlabel. Namun mereka telah mengidentifikasi calon pembeli, meskipun masih terbatas. Berbeda dengan Kelompok Industri Pengolahan Kacang Mete “Mareje” yang baru saja memproduksi mete kupas ” Kata Herman yang biasa dipanggil Ecank merupakan staf pendamping lapangan”. ( Crt-Moh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *