Strategi Mewujudkan Perubahan Petani HTR & HKm Lombok Tengah

Hasil Pembuatan Teras
Hasil Pembuatan Teras

MoH Hizam ( Foto Hasil Pembuatan Teras)

SAMANTA Foundation – Sebagai rangkaian dari program ” Kemakmuran Hiaju” yang dilaksanakan oleh SAMANTA berkerja sama dengan kemitraan dan didukung oleh MCAI, Masyarakat Petani HTR  Desa Batu Jangkih dan Petani HKm Desa Aik Berik dan Desa Lantan melakukan kegiatan ” Pelatiahan Wanatani”  yang dilaksanakan di masing-masing desa. ( 12/3/2017)

Lombok Tengah memiliki hutan seluas 23,726 ha, terdiri-dari 11.453 ha hutan lindung, 3.300 ha hutan produksi dan 6.824 ha hutan konservasi.  Lahan kritis di kawasan hutan di Lombok Tengah mencapai sekitar 4,400 ha atau 18,5 % dari luas hutan (Dishut NTB, 2014).

Ada 4 desa lokasi proyek yang areal hutannya dalam kategori kritis, yaitu Kabul, Mangkung, Batu Jangkih dan Pandan Indah Keempat desa ini sudah memiliki ijin HTR sejak 2011 dan sebagian calon pengelola kemitraan kehutanan di hutan produksi. Sementara 2 desa lainnya, Aik Berik dan Lantan  merupakan area HKm di hutan lindung yang sudah mendapai ijin sejak tahun 2010.

Namun pengelolaan areal ijin HTR, HKm dan kemitraan kehutanan belum dikelola dengan optimal. Hal ini salah satunya disebabkan oleh tidak adanya pengetahuan tentang wana tani. Kegiatan pertanian di areal hutan dilakukan secara tradisional dan cenderung tidak produktif dan berkelanjutan. Kondisi hutan cenderung diorientasikan untuk kepentingan ekonomi (tapi tidak produktif), ketimbang mengkombinasikan tanaman pohon hutan dengan tanaman pertanian jangka pendek.

Secara konsep wanatani merupakan system pertanian yang mengkombinasikan berbagai jenis tanaman yang di tanam dalam satu lahan berbasis pada kehutanan.

Secara konsep system wanatani merupakan system yang sudah sering dilakukan dan di terapkan oleh para pendahulu kita dalam pengelolaan lahan pertanian ” Kata Amaq Dopel Selaku Ketua Koprasi Serba Maju Bersama”, namun kita sering kali melupakan, bahkan mengabaikannya, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pertanian yang terus meningkat, padahal system wanatani menjadi system yang efektif dan sangat menguntungkan dalam berbagai aspek yaitu apsek ekonomi, ekologi maupun aspk sosial.

Dalam  pelatihan tersebut peserta diberikan materi tentang bagaimana mengelola lahan hutan dengan menggunakan sisitem pertanian wanatani, tetapi peserta juga diberikan pengetahuan dan keterampilan bagaimana caranya melakukan pemuliaan terhadap lahan yang ada, yaitu dengan diberikan keterampilan bagaimana teknik melakukan konservasi terhadap tanah dan air supaya lahan atau tanah tidak mengalami kerusakan, tidak terjadi erosi, banjir, longsor dan bagaimana menjaga agar kesuburan tanah tetap terjaga.

Pada hari pertama dilakukannyan pelatiahan ini,  peserta merasa sanksi untuk bisa menerapkan system pertanian wanatani, karena dalam anggapan peserta, system ini membutuhkan tahapan-tahapan yang cukup lama dan cukup rumit, di samping itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga.

Pada hari kedua, peserta diberikan kesempatan untuk mempraktekkan bagaimana melakukan konservasi terhadap tanah. Peserta di latih teknik menggunakan alat sederhana  untuk menentukan titik kuntur lahan yang miring dengan segi tiga ‘A’ dan ondol-ondol, tujuannya adalah untuk membuat teras supaya lahan yang miring tidak mengalami erosi, mengurangi aliran air dipermukaan dan menjaga kesuburan tanah.

Alat sederhana untuk menentukan titik kuntur lahan yang miring dengan segi tiga ‘A’

Alat sederhana untuk menentukan titik kuntur lahan yang miring dengan segi tiga ‘A’

“Wah, teknik ini bagus dan sangat cepat dan sebenarnya teknik ini sudah kami lakukan, hanya saja tidak menggunakan alat sperti ini, dibuat asal begitu saja”, kata amaq kohal salah satu peserta dari kelompok bunga hijau dusun peperek desa batu jangkih dengan antosiasnya sambil menggali mempraktekkan cara pembuatan teras.

Setelah mencoba dengan melakukan praktek, peserta mempunyai kesan yang positif dan merasa bahwa system pertanina wanatani ini sangat baik dan cocok untuk diterapkan di kawasan Hutan produksi dengan kondisi lahan dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi.

Di akhir pelatihan peserta di bagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing diberikan pengetahuan bagaimana melakukan perencanaan supaya pengelolaan hutan menjadi baik dan mempunyai hasil yang meningkat dengan tanpa mengganggu tanaman kehutanan dan hasil dari diskusi kelompok tersebut dijadikan sebagai rencana tindak lanjut yang nantinya akan dilaksanakan oleh kelompok masing-masing. (Moh Samanta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *