MEORUMBA MENUJU PERUBAHAN

dsc00150-bla-bla

Pelayanan kesehatan di Desa Meorumba dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Sudah tidak adanya anak-anak yang mengindap gizi buruk, maupun kematian ibu anak yang terlambat tertangani saat persalinan serta antusias masyarakat desa dalam memanfaatkan layanan kesehatan menjadi salah satu bukti tingkat kesehatan masyarakat sudah membaik. Tidak salah kemudian desa tersebut menjadi desa persiapan Desa Siaga Kesehatan. Selain pelayanan kesehatan yang disasar dalam Program Peduli, layanan dasar lainnya seperti pengurusan adminduk juga menjadi targetnya.

Laporan Yohanis Landu Praing (Pendamping Program Peduli Sumba Timur)

Jemari Niwa Lepir nampak sibuk mencatat hasil timbangan balita di bukunya saat kegiatan posyandu di Uma Jawa Desa Meorumba Kecamatan Kahungu Eti Kabupaten Sumba Timur, NTT, Selasa (17/6/2016). Sebagai perawat di Pustu Desa Meorumba, Niwa memiliki kewajiban untuk terlibat aktif dalam kegiatan posyandu. Tercatat ada 23 orang yang menghadiri posyandu, 23 orang merupakan balita sedangkan sisanya adalah ibu hamil.
Menurut Niwa, selain pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan balita juga dilakukan pemberian makanan tambahan (PMT) berupa bubur kacang hijau dan minuman susu. Masyarakat sangat Puas dengan Pelayanan seperti ini. Setiap bulan di POSYANDU selalu ada pelayanan PMT, sehinga anak-anak yang mendapat PMT, selalu sehat dan tidak pernah kekurangan gizi.
Dibandingkan dengan kondisi dua tahun sebelumnya, saat ini sudah menunjukan kemajuan yang luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan tidak ada lagi angka gizi buruk dan semakin rendahnya angka pasien berobat di Puskesmas pembantu. Kalaupun ada yang gizi kurang itu hanya gangguan kesehatan ringan yang biasa menimpa bayi dan balita seperti batuk, diare dan ISPA. Memang patut dimaklumi, kalau dulu masyarakat tidak rajin ke posyandu belum tentu karena tidak sadar akan pentingnya kesehatan namun karena jarak yang jauh dari tempat tinggal ke posyandu.
Di desa Meorumba terdapat terdapat 4 dusun dimana masing-masing memiliki posyandu. Masing-masing posyandu sudah menetapkan tanggal pertemuan rutin tiap bulan serta ditunjang kader-kader berpengalaman dalam penanganan kesehatan masyarakat secara umum terutama ibu hamil dan balita.
Sebagai desa persiapan Desa SIAGA, Desa Meorumba diharapkan mampu menjaga kesehatan masyarakatnya pada umumnya dan utamanya mencegah kematian ibu dan bayi dengan memanfaatkan kekuatan ke­bersamaan masyarakat desa dalam hal kekeluargaan dan gotong royong. Melalui Program PHBS yang didalam­nya terkan­dung upaya-upaya peningkatan perilaku sehat bagi keluarga guna meningkatkan kesehatan lbu, bayi, dan keluarga seperti pemberian ASI Eksklusif, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi, melakukan aktivitas fisik, menghindari rokok serta mengupayakan pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat serta peningkatan penyediaan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat, kesemuanya akan sangat mendukung dalam pembentukan dan pengembangan Desa Siaga ke depan.
Niwa Lepir juga menjelaskan, Desa Meorumba tidak saja tentang kesehatan ibu dan anak tetapi berupaya menggalakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan menggalakan wajib menggunakan jamban keluarga saat ini ada kampanye “manahu wai paunung” atau rebus air minum.
Masyarakat desa Meorumba ter­utama orang miskin yang meru­pa­kan sasaran langsung Program Peduli sudah harus lebih antuasias dalam menjamin kesehatan keluarga. Saat ini mereka harus sudah terbantu dengan berbagai kemudahan yang disediakan oleh pemerintah. Kepala Desa Meorumba, Umbu Balla Nggiku secara tegas mengatakan jika masih ada saja masyarakat yang belum memiliki jamban keluarga, tidak segan-segan memberikan sanksi.
“Di desa sudah ada bidan dan perawat serta pemerintah sudah menyediakan KIS, tinggal kemauan anda sendiri bagaimana menjaga kesehatan,” ujar Umbu Balla Nggiku.
Menurut Umbu Nai Lili, sapaan Umbu Balla Nggiku selama kurun waktu 2015-2016 sudah ada 153 orang yang telah menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Desa Meorumba. Bahkan ia tak segan-segan terlibat langsung dalam kegiatan posyandu maupun mengecek kepemilikan jamban keluarga dan kebersihan lingkungan di masyarakat. “Ini merupakan salah satu tugas kepala desa, karena kepala desa bukan raja tapi sebagai pelayan masyarakat, karena sangat berdosa ketika rakyat sudah memilih pemimpinnya tapi kita tidak melayani rakyat” kata Umbu Nai Lili.

Perubahan Perilaku
Selain perubahan pelayanan terhadap masyarakat, perubahan peri­laku pun nampak terlihat di desa Meorumba. Desa Meorumba sangat memegang sistem sosial patriaki dan feodal, hal ini juga berdampak pada proses-proses penentuan kebijakan pembangunan sosial ekonomi di desa. Masyarakat strata atas lebih dominan dalam menentukan kebijakan pembangunan di desa. Oleh karena itu, umumnya masyarakat kelompok ini selalu menempati posisi atau jabatan penting dalam keseluruhan struktur pemerintahan desa maupun institusi informal lainnya di desa. Dampaknya adalah berbagai program pemerintah terutama terkait pemberdayaan masyarakat tidak banyak menyentuh kelompok masyarakat golongan menengah, apalagi golongan hamba. Bahkan masyarakat kelompok hamba sering dijadikan sebagai “alat’ untuk manipulasi bantuan program dari pemerintah. Selain itu sistem sosial patriaki ini juga kurang – atau hampir tidak – memberikan kesempatan kapada kaum perempuan untuk terlibat dalam proses-proses pengambilan keputusan baik di dalam urusan-urusan rumah tangga, maupun dalam urusan kehidupan sosial ekonomi komunitasnya.
Perlahan perubahan-perubahan itu mulai nampak, dahulu untuk bertemu dengan kepala desa harus memikirkan jam berkunjung maupun cara bicara dan duduk. Namun sekarang dia bisa melayani dimana saja, berkomunikasi dengan siapa saja dan bisa duduk dimana saja. Walau demikian jangan salah, ia cukup tegas. Tidak saja tegas terhadap masyarakat tetapi pada aparatnya.
Sebagai salah seorang Umbu yang berpengaruh di desanya, Umbu Nai Lili juga memiliki sekitar dua puluhan anak rumahan di rumahnya. Tapi tidak seperti kebanyakan umbu, Umbu Nai Lili memberi kebebasan untuk berkebun dan bersekolah bagi anak-anak.
“Orang-orangnya (hamba) bebas, mereka berkebun dan sudah punya rumah masing-masing. Anak-anak mereka sudah boleh bersekolah. Kalau umbu panggil untuk bantu-bantu baru mereka datang” kata Dundu Kamendak (63 tahun) salah seorang warganya.
“Kesehariannya biasa-biasa saja, malahan terkadang Umbu kerja sendiri di kebun, istirinya kerja sendiri di rumah. Berbeda kalau dulu, tinggal perintah hamba-hambanya langsung kerja.” ujar Dundu.
Perubahan tidak saja pada diri Umbu Nai Lili, anak-anak laki-laki dan perempuannya juga sudah berbeda dengan anak-anak Maramba lainnya. Mereka cukup akrab pada siapa saja, tidak mau perlakuan khusus. Umbu Ana Rara misalnya, anak sulungnya tidak sungkan memikul pakan ternak kambing.
Selain layanan kesehatan, pendidikan serta perilaku di Desa Meorumba yang mengalami perubahan dalam dua tahun terakhir, dalam pelayanan pengurusan adminduk seperti KTP, KK dan akta kelahiran pun sudah semakin mudah dilakukan oleh warga masyarakat. Dalam kurun waktu dua tahun, sampai 2016 terdapat 587 layanan adminduk yang difasilitasi dalam Program Peduli seperti KKS, KIP, KIS, KTP, akta lahir, akta nikah dan KK. Untuk KIS terdapat 154 yang sudah difasilitasi, sedangkan KIP terdapat 97, 183 merupakan KIS, 48 adalah KTP, sedangkan akta nikah dan akta kelahiran masing-masing 25 dan 38. Sedangkan untuk pengurusan KK ada 42 orang.
Pendamping Program Peduli berupaya menggunakan teknik dan strategi yang bisa memberi peluang untuk membawa perubahan pada masyarakat. Salah satu strategi ialah bagaimana menggiring pemahaman pemerintah desa agar setiap perencanaan desa dapat mengakomodir kebutuhan dan kepentingan masyarakat terekslusi dari aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan maupun hak politik dan terakomodir dalam dokumen RPJMDes. Untuk itu perlu dilakukan asistensi teknis penyusunan RPJMDes Desa Mauramba, ini adalah peluang bagimana mewujudkan cita-cita Inklusi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *