Hilangnya Panggaiyang dan Parinna di Sawah Kami

senandung 1

Namanjaku, maringu”
Nahuhu, manggaluwang
Nahamu ma na tana
Ngia pandaula wihinda
Baruku mila etina
I ama mbulu, i ina mbulu

(Damai dan sejahtera
Berlimpah susu dan madu
Betapa baiknya alam
Tempat kita bersuka ria
Karena kasihnya
Oleh Tuhan, Sang pemelihara)senandung2Laporan Stepanus Landu Paranggi (Pendamping Program Peduli)

Setiap musim panen padi ladang maupun padi sawah, nyanyian para tetua selalu menggema diantara lembah atau lereng bukit. Puluhan bahkan ratusan pria dan wanita dewasa bernyanyi sahut-sahutan sambil meliuk-liukan badan, tangan-tangan mereka begitu apik menuai setiap mayang padi meng­ikuti irama lagu. Muda-mudi dan anak-anak berjalan mengitari setiap orang dengan membawa bakul untuk menadah mayang padi yang sudah penuh dalam gempalan tangan. Selanjutnya padi-padi itu akan diangkut ke tempat yang sudah disediakan. Tradisi panggaiyang atau nyanyian saat menuai padi sungguh indah terdengar ibarat berbalas pantun disertai syair-syair indah dalam bahasa lokal.
Salah satu cuplikan syair lagu yang mereka nyanyikan penuh hikmah. Sebuah ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan alam semesta. Sebuah pengakuan para leluhur tentang adanya sang pencipta manusia dan alam. Sebuah pesan moral kepada generasi penerus bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan alam untuk saling membutuhkan.

Ada dua jenis nyanyian atau panggayaiyang dalam tradisi menuai padi bagi masyarakat Sumba Timur. Pertama nyanyian ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga kepada alam atas hasil panen yang sangat memuaskan. Jenis kedua, adalah nyanyian kegembiraan atau kebahagian atas hubungan kekeluargaan atau kerukunan setiap marga atau klan jika bertemu dalam momen seperti ini. Nyanyian-nya­nyian seperti ini biasanya hanya orang-orang dewa­salah yang menguasai syair-syair­nya dan tidak semua orang mampu melakukan itu karena bait­- baitnya harus tersusun rapi.

Selain panggaiyang, masih ada satu nyanyian lagi yaitu nyanyian menginjak padi atau parinna. Ketika padi sudah selesai dituai dari ladang dan ditumpuk ditempat yang sudah disediakan, biasanya para pemuda pilihan yang masih sehat dan kuat akan bersiapa-siap untuk menginjak padi untuk memisahkan antara jerami dan bulir. Kegiatan seperti ini dilakukan semalam suntuk mulai maghrib sampai subuh. Gadis-gadis desa terpilih yang bersuara merdu akan memilih lagu-lagu rancak sesuai irama menginjak padi sebagai pemberi semangat kepada para pemuda yang tanpa hentinya berjoget diatas tumpukan padi . Maklum ketika itu belum ada mesin rontok padi, kalaupun ada masih dihitung dengan jari siapa yang mampu membeli.

Bedanya, lagu menginjak padi lebih kepada syair-syair berupa nasihat atau sindiran antara muda-mudi tentang percintaan atau kehidupan sosial bermasyarakatan. Perbedaan lainnya, panggaiyang dinyanyikan agak mendayu-dayu seperti seriosa tetapi lagu parinna lebih kurang se­perti dangdut atau atau pop dangdut. Menariknya lagi jika ada pasangan kekasih sesama pemuda-pemudi kampung, hubungan mereka akan ketahuan dari gaya mereka bernyanyi atau berdansa menginjak padi. Hal itu terlihat dari syair-syair yang diungkapkan sang gadis dalam bentuk pantun, sedangkan sang pemuda akan lebih bersemangat jika sang kekasih yang melantunkan nyanyian.

Panggaiyang dan parinna kembali terdengar di Kampung La Kutta, Desa Meorumba Sumba Timur saat panen perdana varietas padi Situbagendit yang dihadiri Dinas Pertanian Sumba Timur, bulan Mei lalu setelah sekian lama tak terdengar lagi.

Desa Mauramba maupun Meorumba, kisah senandung yang hilang bermula ketika kegiatan manusia mulai beralih ke teknologi mesin. Budaya gotong-royong, tradisi panggaiyang, parina dan sebagainya perlahan mulai hilang bahkan tidak pernah kedengaran. Bahkan mulai terjadi pergeseran nilai antara masyarakat lokal dari gotong royong dan saling membantu beralih ke upah harian atau bisnis sewa-menyewa alat pertanian. Akibatnya, yang mampu membeli mesin traktor atau mesin rontok semakin berkantong tebal. Sedangkan orang yang pas-pasan bahkan kekurangan semakin berkekurangan. Misalnya, seorang petani yang tidak mampu menyewa alat, mau tidak mau ia harus menjual sebahagian kecil hasil panennya untuk menutupi sewa alat. Biaya ini baru biaya untuk buka la­han, belum termasuk perawatan dan biaya produksi atau panen.

senandung3

“Untuk menyewa traktor, kami harus mengeluarkan Rp15.000 per are, belum termasuk minyak dan makan operator. Kurang lebih Rp1.250.000 untuk menggarap lahan 50 are”, kata Yohanis Katuahi Rihi.

Seorang buruh misalnya, bia­sanya mengais rezeki pada musin panen dengan menjadi buruh arit padi, namun karena ada mesin potong padi ia kehilangan salah satu pencahariannya. Selain buruh aritpadi, ada yang disebut kanamba muru uhu. Orang-orang seperti ini biasanya mencari sisa–sisa padi yang masih tersisa diantara jerami, namun de­ngan adanya mesin rontok padi, me­reka kehilangan salah satu sumber penghasilanya.

“Sudah sangat jarang atau sangat sedikit yang masih menjadi kanamba muru uhu dianggap kuno, akibat­nya mampu atau tidak mampu masyarakat berupaya sebisa mungkin untuk menggunakan teknonogi canggih atau traktor”.

Tradisi senandung panggaiyang dan parinna adalah seni budaya turun temurun yang telah hilang, dan ini adalah aset lokal yang harus dipertahankan entah bagaimana cara dan siapa yang memulai. Kalau mau jujur, andainya saja panen di Lakutta tidak melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur, mungkin juga tidak akan terdengar lagi senandung tersebut.(*)

untuk versi cetak dapat di download disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *