Kabihu Mengusirku, Mereka pun tetap Saudaraku

lutaaa

“Sekalipun saya mati, seribu orang yang me­ngubur saya, hamba tetap hamba. Tak mungkin saya naik menjadi raja.”
Walau terusir dari kabihu (suku) Tanarara karena peri­lakunya yang dianggap mencemarkan kabihu, bahkan rumah yang dibangun dengan susah payah pun dibakar, tak membuat Luta Ndaku Nau dendam terhadap sukunya.

Luta Ndaku Nau

Luta Ndaku Nau

Laporan Eko Susilo (Samanta)

Jari-jari tangan Luta Ndaku Nau (50) bapak lima orang anak ini dengan cekatan membersihkan bulu-bulu halus daun lontar dengan pisau yang akan digunakan untuk membungkus rokok. Rumah ilalang yang ditempati bersama istrinya, lebih disebut sebagai gubuk. Namun, inilah yang ia miliki saat ini. Tak ada keinginan yang muluk-muluk saat ini, dapat makan, menggarap sawah dan kebun tiap hari merupakan suatu kebahagiaan tiada tara. Saat ini yang ada di­pikirannya hanya memperbaiki rumah, mengganti ilalang dengan seng.

Perjalanan hidup yang dialaminya, tak pernah sekalipun ia bayangkan sebelumnya. Sempat merasakan dinginnya lantai penjara selama 1 tahun 2 bulan karena kasus pencurian ternak kerbau, namun keluar dari penjara tahun 2007 bukanlah akhir dari perjalanan pahit hidup Luta.

Saat berumur 3 tahun, Luta kecil diantarkan oleh Mamanya ke Mama Na-tuannya- diTanarara Kecamatan Matawailapau sekitar 52 km dari Meorumba men­jadi anak angkat. Sejak kecil sudah terbiasa bekerja agar mendapatkan upah sebagai uang jajannya, bahkan untuk membeli celana. Mulai dari jualan jeruk nipis dengan upah 5 rupiah.

Saat kelas 2 Sekolah Rakyat, Mama Na yang selama ini mengayominya dari bayi meninggal dunia. Disaat anak seumurannya bermain, ia sudah mencari nafkah untuk membantu keluarganya dan anak rumahan dengan bekerja menggergaji kayu di sekolah yang diupah 25 ribu rupiah dipotong lima ribu untuk uang makan. Akibatnya sekolahnya tidak selesai.

Selain bekerja menggergaji kayu, Luta mulai “mengasah” ketrampilannya untuk mencuri. Mulai mencuri hewan kecil sampai hewan besar seperti ayam, sapi, kerbau, dan kuda. Hasil mencuri ia digunakan untuk senang-senang dan minum-minuman. Hewan-hewan hasil curian dibawanya ke Desa Kawawo, Kecamatan Kahaung Eti sekitar 72 km untuk dijual kepada penadah hewan. Tahun demi tahun terus ia lakukan, ketika uang habis maka Luta pun akan mencuri lagi karena mudah dan cepat menghasilkan banyak uang.

Sebenarnya ada orang di Lainabonga -17 km dari Kawawu- yang menawarinya pekerjaan sebagai tukang bangunan supaya Luta berhenti sebagai pencuri ternak. Bahkan sempat membuat dua rumah di Lainabonga dengan ukuran 7×5 meter yang hasilnya ia gunakan untuk membeli ternak. Begitu Luta memiliki keahlian sebagai tukang bangunan, masyarakat di Tanarara pun menggunakan jasanya untuk membangun rumah. Merasa telah memiliki penghasilan yang cukup, Luta pun menikahi gadis dari Mahambala Desa Katikutana Kecamatan Matawailapau.

Walau telah memiliki keahlian sebagai tukang bangunan, namun Luta merasa belum mampu mencukupi kebutuhan keluarganya ditambah lagi anggota keluarganya bertambah banyak. Sedangkan ia tidak memiliki warisan tanah dari Almarhum Mama Na karena dianggap tidak sah sebagai anak angkat. Untuk itu pada tahun 2004, Luta pindah ke Laibo­nga untuk mengerjakan pembuatan 2 rumah warga di sana dan upahnya digunakan untuk hidup sehari-hari.

luta2

Tahun 2006, ia kembali lagi ke Tanarara namun karena sulitnya penghidupan di Tanarara apalagi tidak memiliki lahan pertanian sebagai penghidupan sehari-hari, naluri “nakalnya” muncul kembali. Tak tanggung-tanggung, kerbau milik mertualah yang dicurinya. Rencananya kerbau itu akan dibawa ke Laibonga untuk di les – dipotong dan dijual dagingnya dengan 1 kg daging ditukar 4 kg kutu luk (sejenis lem sebagai bahan baku pernis).

Namun, nasib berkata lain, belum sempat kerbau itu diles, Luta ditangkap Polisi dari Polsek Tanarara. Sempat diinapkan semalam sebelum dibawa ke Polres Waingapu. Untuk menanggung perbuatannya, Luta divonis pengadilan 1 tahun 2 bulan penjara.

“Hidup di penjara itu tidak menyenangkan. Tidak ada yang namanya raja, swaggi (tukang santet) atau hamba semua sama rata. Satu gelas dipakai minum untuk semua­nya dan ketika kita menghadap petugas sekalipun latar belakangnya atta kita harus merunduk kepada petugas tersebut,” katanya

“Satu tahun 2 bulan saya merasakan seperti 4 tahun lamanya dipenjara. Tidak bagus betul di penjara, hanya masuk 1 tahun saja, kita merasa 4 tahun rasanya,” lanjutnya.

Setelah menghabis masa tahanannya, tahun 2007 Luta bebas dan kembali ke Meorumba. Berharap untuk memulai hidup baru dan tak akan mengulangi perbuatannya itu Luta pun membuat rumah. Namun, ada sebagian anggota kabihu yang mengangap Luta telah mencemarkan nama baik kabihu dengan dipenjara akibatnya rumah yang susah payah ia bangun dibakar.

“Tak ada satupun barang tersisa setelah orang bakar rumah saya, hidup saya tambah menderita dan terombang-ambing tanpa ada tujuan,” akunya.

Untunglah, Bapak Yohanes Kahumbu Manang – mantan Sekdes Meorumba- menampungnya untuk tinggal dan bekerja di rumahnya. Namun, beberapa tetangga masih mencurigainya karena latar belakangnya sebagai pencuri apalagi pernah dipenjara. Akibatnya terjadi pertengkaran-pertengkaran dengan tetangganya. “Saya pun kembali diusir dari rumah itu,” katanya.

Mendengar ada warganya yang mengalami pengusiran, Kepala Desa Meorumba, Umbu Balla Nggiku – biasa dipanggil Umbu Nai Lili- memanggilnya dan berbaik hati memberikan tempat untuk tinggal dan bekerja di kebunnya untuk dikelola. Lahan sekitar 25 are tersebut oleh Luta ditanami wortel dan bawang merah. “Kalau dia mencuri kembali, saya akan ikat di pohon sebagai hukumannya. Dan syukurlah, dia sudah tidak pernah sekalipun men­curi,” ujar Umbu Nai Lili bahkan, anak kelima Nuta, Arman Maramba Hiwa (10) tinggal bersamanya.
Keahlian Luta dalam mengelola pertanian diperoleh secara otodidak. Dengan berjalan 18 km ke Laimuda untuk belajar cara menanam wortel, belajar bagaimana jarak tanam dan perlakukan tanaman. Hasil dari penjualan wortel kadang 1 juta lebih, terkadang juga sampai dua juta. Baru tahun ini Luta mengalami gagal panen wortel. “Dan sekarang pun saya tidak bermimpi lagi untuk mencuri. Sekarang saya fokus untuk usa­ha pertanian karena mencuri tidak ada gunanya hanya sekadar se­nang-senang,” katanya.

Saat di Manggawai dan hendak pulang ke Meorumba Luta merasa berat hati. Keluarga disana berselisih gara-gara kelakuannya dan tidak bolehkan menampungnya, walau ada kerabat yang memperbolehkan. Untuk pamitan mesti ada prosesi adat dan Luta memberikan 1 ekor kuda dan dibalas 1 lembar kain dan 1 lembar sarung.

Namun, persoalan belumlah se­lesai. Saat Luta dan istrinya memindahkan barang-barang untuk pulang ke Meorumba, terdapat keberatan dari pihak perempuan (ipar) karena ada prosesi adat yang belum tuntas yakni belis (mahar). Per­masalahan itu sampai pemerintah desa dan kecamatan turun tangan untuk menyelesaikannya, hasilnya harus di­selesaikan secara adat/ke­keluargaan.

“Saya tidak sedikitpun ada rasa dendam terhadap mereka, sekalipun besok atau lusa, mereka ada dalam keadaan susah, apa yang bisa saya bantu akan saya bantu mereka. Sama halnya juga dengan saudara-saudara saya di Meorumba sekalipun banyak yang tidak menyukai saya sampai rumah saya dibakar tidak ada rasa dendam sedikit pun dalam diri. Saya sudah memutuskan untuk tetap sabar dan hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. (*)

untuk versi cetak dapat di download disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *