Data Potensi Mekarsari

1

Desa Mekar Sari, Kecamatan Suela Lombok Timur sebagian masyarakat kehidupannya bergantung dari hasil hutan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah masyarakat Desa ini yang menjadi penggarap. Berdasarkan data profil GAPOKTAN Hutan Puncak Semaring tahun 2015, dari 2.280 KK penduduk Desa Mekar Sari, tercatat 475 KK sebagai penggarap.

Sekretariat KTH Puncak Semaring Desa Mekarsari

Sekretariat KTH Puncak Semaring Desa Mekarsari

Masyarakat sudah puluhan tahun mengelola hutan, yaitu sejak tahun 1960-an. Hanya saja pengelolaan hutan oleh masyarakat belum memenuhi cara-cara pengelolaan hutan yang baik sesuai dengan yang diatur dalam UU Kehutanan. Masyarakat masih cenderung mengikuti seleranya di dalam memperlakukan hutan. Padahal jika dikelola dengan cara yang baik dan bijak, keberadaan hutan akan mampu mengangkat perekonomian masyarakat setempat, mengingat potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dihasilkan sangat menjanjikan.

Meningkatnya jumlah masyarakat yang merambah hutan disebabkan karena faktor ekonomi. Dilihat dari indeks kesejahteraan inti (kebutuhan dasar) jumlah penduduk miskin di Desa Mekar Sari yang diperoleh dari hasil Survey Partisipatory Poverty Assesment and Monitoring (PPAM) tahun 2015 adalah 949 KK  tergolong miskin (45%), 1141 KK (51%) menengah dan 11 KK (1%) tergolong sejahtera. Berdasarkan data tersebut tingkat kesejahteraan masyarakat masih didominasi oleh kalangan menengah dan miskin.

Tingginya angka kemiskinan disebabkan oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Terbatasnya lapangan pekerjaan di desa ini dapat diukur dari kepemilikan lahan, karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah bertani. Berdasarkan Profil Desa Mekar Sari Tahun 2014, luas lahan persawahan di desa ini adalah 875 ha. Dari luasan tersebut teridentifikasi hanya 1.540 KK dari 2.280 KK yang mendapatkan akses kelola, sisanya sebanyak 816 KK belum memiliki lahan pertanian. Mereka yang tidak memiliki lahan pertanian kemudian mencari penghidupan dari hasil hutan. Bahkan mereka yang memiliki lahan pertanianpun terpaksa harus juga menambah pendapatan dari hasil hutan, karena lahan persawahan di desa ini hanya produktif di musim hujan.

Berdasarkan hasil pendataan potensi, baik Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ataupun Hasil Hutan Kayu (HHK) menunjukkan adanya berbagai jenis kayu hutan alami yang tumbuh di kawasan ini, di antaranya adalah Mahoni, Bajur, Gaharu, Klokos, Nyangsit, prabu, Litak, Borok, Minden, Manjerong, Beringin dan trep. Sedangkan kayu yang merupakan hasil budidaya yang didatangkan dari luar adalah Gamelina, Sengon Buton, Mahoni dan Rajumas. Dari hasil pendataan tersebut teridentifikasi 8.835 pohon yang ditemukan. Jenisnya didominasi oleh Gamelina dan Mahoni. (Data potensi kelompok tahun 2015).

Selain kayu, teridentifikasi juga berbagai jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Di antaranya adalah Avokad, Durian, Rambutan, Nangka, Kemiri, Kayu Manis, Kopi, dan Kakao. Jenis HHBK didominasi oleh Avokad, Durian, Kemiri. Jenis HHBK yang sudah mulai berproduksi adalah Avokad dengan hasil panen mencapai 119 ton/tahun dengan harga berkisar antara Rp.2500 – Rp.10.000/kg. Potensi Kemiri mencapai 5 ton/tahun dengan harga rata – rata Rp.6000/kg. Sementara itu Durian masih belum ada yang produksi.(Hasil wawancara dengan penggarap).

Selain buah – buahan, masyarakat juga banyak membudidayakan tanaman jenis Empon – empon, diantaranya adalah Jahe, Kunyit dan Lengkuas. Saat ini, sudah ada sebagian penggarap yang secara khusus membudidayakan Jahe. Dari hasil survey yang dilakukan oleh kelompok pada tahun 2015 potensi Jahe mencapai 100 ton/tahun dengan harga jual antara Rp.8000 – Rp.15.000/kg. System pemasaran baik buah – buahan ataupun Empon – empon dijual kepada pengepul (tengkulak). Setiap musim panen buah dan Empon – empon, para pengepul biasanya berdatangan ke lahan garapan penggarap. Hal inilah yang kemudian menjadikan harga jual menjadi murah. Namun, di sisi lain penggarap juga tidak memiliki akses pasar.

Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

 
No Jenis Jumlah Batang Volume/tahun      Harga/Rp. Keterangan
1 Durian 3049 Belum produksi
2 Avokad 9.531 119 ton  2.000 – 5.000/Kg.
3 Kopi 5.221 5 kwintal  22.000 – 47.000/kg.
4 Kakao 967 5 kwintal  15.000 – 25.000/Kg.
5 Kemiri 2.599 5 ton  5.000/kg.
6 Nangka 2.266 400 ton  1000/kg
7 Mangga 1.593 5 ton  2.500/Kg.
8 Kayu Manis 3456 Belum produksi
9 Melinjo 305 Belum produksi
10 Rambutan 165 Belum produksi

          Sumber: Hasil pendataan potensi tahun 2015

 

Potensi Bawah Tegakan

 
No Jenis Harga/Rp.

Volume

(Ton)

Keterangan
1 Jahe 10.000/Kg. 50
2 Kunyit 1
3 Lengkuas 1
4 Porang 1

Sumber: Hasil pendataan potensi tahun 2015

 

Potensi Kayu

 
No Jenis Jumlah Batang Keterangan
1 Jati 1.544 Hasil penanaman
2 Mahoni 2.635 Hasil penanaman
3 Sengon buton 397 Hasil penanaman
4 Rajumas 33 Hasil penanaman
5 Sonokeling 52 Hasil penanaman
6 Bajur 52 Tumbuh alami
7 Kelokos 14 Tumbuh alami
8 Suren 44 Tumbuh alami
9 Borok 21 Tumbuh alami
10 Prabu 12 Tumbuh alami
11 Litak 10 Tumbuh alami
12 Manjerong 136 Tumbuh alami
13 Beringin 6 Tumbuh alami
14 Pucat 13 Tumbuh alami
15 Minden 12 Tumbuh alami
Jumlah 4.981

 

Berikut Data Lengkap Potensi HHBK dan HHK Desa Mekarsari

Data HHBK a. Data Potensi HHBK Batu Bedait
b. Data Potensi HHBK Batu kaoq
c. Data Potensi HHBK klp mudung
d. Data Potensi HHBK rindu alam
e. Data Potensi HHBK Tempos sodot
f. Data Potensi HHBK urat kelayu
Data HHK a. Data Potensi Kayu batu Bedait
b. Data Potensi Kayu Batu kaoq
c. Data Potensi Kayu klp mudung
d. Data Potensi Kayu rindu alam
e. Data Potensi Kayu Tempos sodot
f. Data Potensi Kayu urat kelayu

Rekap data potensi HHBK dan HHK, download disini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *