Perempuan-perempuan Pemburu Air

perempuan pemburu air

Air bagi masyarakat di dua desa, Mauramba dan Meorumba merupakah barang yang langka. Mencari air ibarat manusia hendak berburu rusa. Para perempuan di Kampung Laitenggi, Desa Meorumba, Kecamatan Kahaungu Eti Kabupaten Sumba Timur, NTT harus antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan 10- 15 liter air. Terkadang sambil menunggu giliran, ada juga pertengkaran kecil ketika ada yang tidak antri. Lebih parah lagi kalau mata airnya sudah kering kerontang terpaksa mereka harus naik turun gunung untuk mengambil air sungai yang jarak­nya kurang lebih 1500 meter.
Laporan Selsilia Yowa Mbali  (Pendamping Program Peduli)

Air merupakan salah satu kebutuhan utama bagi setiap umat manusia. Tanpa air bagaimana manusia bisa hidup..? Suatu fakta nyata bahwa dalam dunia ini, tidak ada satu manusia pun yang hidup tanpa setetes air. Para ahli me­ngatakan bahwa 80% tubuh manusia terdiri atas cairan, dengan demikian manusia lebih banyak membutuhkan air untuk bertahan hidup. Kegunaan air tidak saja untuk kebutuhan konsumsi tetapi sangat menyumbang pada aspek kesehatan rumah tangga dan penguatan ekonomi.

Dari sisi kesehatan rumah tangga misalnya air dapat digunakan untuk di minum, masak, mencuci, mandi, menyiram dan kakus (WC). Ketika pemerintah menghimbau masyarakat agar menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tantangannya adalah, bagaimana ma­syarakat bisa memenuhi kebutuhan dasar terkait kesehatanya, kalau air saja tidak mencukupi?

Perempuan kampung Laitenggi, Desa Meorumba, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, NTT adalah salah satu tempat yang sangat merasakan ke­kurangan air bersih. Kampung ini hanya ada satu mata air, namun tidak cukup memenuhi kebutuhan sekitar 15 kepala keluarga. Mata air ini yang dulunya bisa bertahan pada musim kemarau, namun kini hanya bisa dimanfaatkan mulai bulan November sampai Mei. Selebihnya masyarakat kampung Laitenggi terutama kaum wanita sangat kesulitan untuk mendapat air bersih.

Hal inilah yang membuat mereka terkadang mengeluh dengan kondisi yang ada. Urusan mengambil air cu­kup memakan tenaga dan menyita waktu. Kalau sudah demikian, terpaksa mereka harus korbankan pekerjaan lain lagi yang lebih penting. Padahal masih banyak pekerjaan lain yang mestinya dilakukan seperti mencari nafkah maupun tugas mereka sebagai ibu rumah tangga, namun apa daya tempat pengambilan air yang sangat jauh se­hingga menyita waktu mereka. Tidak jarang pekerjaan yang lainpun sering kali tertunda.

Geliat berburu air tidak saja berpengaruh pada sektor produktifitas tetapi cukup mempengaruhi kesehat­an masyarakat itu sendiri terutama perempuan. Dari pengamatan, 55 % perempuan di pedesaan sakit disebabkan kelelahan atau daya tahan tubuh yang tidak seimbang. Salah satu faktor kelelahan adalah karena mengambil atau memburu air bersih untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
Selain kelelahan, kurangnya sumber air bersih sangat mempengaruhi kebersihan lingkungan maupun individu. Perempuan sangat membutuhkan air yang cukup banyak terutama bila dalam keadaan haid atau setelah melahirkan. Kurang­nya persediaan air terkadang kaum perempuan berupaya apa adanya dalam penanganan kebersihan rumah tangga maupun diri sendiri.

Seperti yang dialami Ibu Uru Hida (49) salah satu warga masyarakat Lai­tenggi Desa Meorumba, Kabupaten Sumba timur. Ibu Uru Hida mesti berjalan kaki membawa dua jerigen lima liter yang berisi air bersih, berarti ia membawa air 10 liter air. Air bersih ini di ambil dari sebuah mata air yang berada di sekitar Kampung Laitenggi yang jaraknya 1300 meter. Dalam satu hari ibu Uru Hida pulang pergi sebanyak 3-4 kali untuk mengambil air atau lebih 30-40 liter.

Jika dalam satu hari ia PP 2 kali dan ia secara tidak langsung menempuh perjalanan sejauh 2,6 km, berapa jauh perjalanan yang ia habiskan dalam 1 bulan 1 tahun, dan 10 tahun. Kondisi ini sangat beralasan jika mereka mengeluh tentang keadaanya.
“Beginilah keadaan kami di desa Meorumba, terutama di Kampung Laitenggi. Aku capek , setiap hari harus naik turun bukit. Kalau air se­puluh liter, hanya cukup untuk cuci piring”, kata uru Hida.
“Umbu dan Rambu lagi di sawah.” katanya.

Umbu dan rambu yang dimaksud adalah sang tuannya sendiri, karena ibu ini berasal dari strata bawah atau orang rumahan. Dalam budaya setempat memang bukanlah hal yang sangat mutlak agar orang rumahan wajib mengambil air. Sudah merupakan tradisi setempat tanpa disuruh pun Uru Hida seolah-olah ini sudah merupakan tanggung jawabnya.

“Kalau tidak datang mengambil air di tempat ini, yang jelas kami sekeluarga tidak makan. Tenaga saya bukan se­perti tenaga laki-laki, saya hanya mampu memikul 2 jerigen. Umur saya sudah tua, setiap kali saya datang ambil air, ha­nya mampu membawa dua jerigen lima liter, itu pun kalau kondisi badan sehat, kami menggunakan banyak air setap hari untuk minum, masak, kebersihan rumah, WC, untuk mandi bagi anak yang ke sekolah,” kata dia sambil senyum kecil.

Perempuan-perempuan kam­pung sungguh cantik alami tanpa polesan alat kecantikan. Sayangnya memasuki usia 30 tahun keatas nampak lebih tua, kusut dan lusuh. Me­reka capek, lelah, letih karena beban pekerjaan.

Ketimpangan gender masih sa­ngat dominan dikalangan perempuan pedesaan dan anak-anak. Jam kerja mereka lebih tinggi dibandingkan kaum pria. Urusan ambil air, angkut kayu bakar, urusan masak, cuci pakaian termasuk mengurus anak-anak masih merupakan rutinitas perempuan dibandingkan laki-laki. Alasannya, pekerjaan mencuci piring, cuci pakaian, ambil air, angkut kayu api adalah urusan perempuan. Kalaupun ada yang sudah mulai melakukan perubahan terutama mereka yang sudah berpendidikan tinggi dianggap memalukan keluarga.

Kisah ibu Uru Hida menggambarkan kondisi perempuan Sumba Timur terutama yang masih menganut faham feodalisme. Perempuan dan anak-anak anak rumahan me­rupakan ujung tombak dalam setiap pekerjaan rumah tangga. Kalau saja setiap anggota keluarga berperan sama seperti misalnya pria ikut ambil air, angkut kayu bakar, mengurus anak kecil dan lain-lain sebagai­nya kemungkinan bebab perempuan akan berkurang. Selain itu perbedaan yang sangat mencolok antara perlakuan tuan terhadap orang rumah (atta) dibandingkan anak kandung Maramba (bangsawan) masih sangat menonjol.

Pekerjaan perempuan dimulai saat pagi buta, paling lambat jam 06.00 dengan memberi pakan ternak kecil seperti ayam dan babi. Setelah itu, bergegas ke mata air mengambil air. Sambil merebus air panas untuk kopi atau teh, perempuan sudah bersih-bersih halaman. Kira-kira jam 07.00 barulah sang suami bangun.

Sementara sang istri menyiapkan kopi, sang pria masih ngobrol sambil menunggu kopi, setelah menyuguhkan kopi, istri mulai menyiapkan sarapan, barulah suami mulai bergeliat mengurus ternak besar misalnya mengeluarkan sapi atau kuda dari kandang. Setelah selesai sarapan pagi, sang istri masih cuci piring, sang suami baru mulai asah parang sambil isap rokok.

Kira-kira jam 07.30 suami istri berangkat ke ladang, bekerja dari jam 08.00 sampai jam 11.00. istri bergegas pulang untuk urus makan siang termasuk mengambil air dari mata air, sang pria bisa saja duduk lesehan atau bahkan tidur pulas dibawah pohon rindang. Mulai bekerja lagi kira-kira pada jam 14.00 bersama suami –istri. Jam 16.00, istri atau anak perempuan sudah mulai bergegas untuk mengumpulkan kayu bakar dan pulang sambil memikul kayu. Kaum pria mulai siap-siap untuk potong rumput pakan ternak. Sesampai di rumah, perempuan menyambar jerigen untuk ambil air minum sedang kaum pria sudah bersiapuntuk mandi sore. Pulang dari mata air, perempuan sudah mulai sibuk memasak dan cucui pring, kaum pria boleh santai sambil isap rokok atau ngobrol dengan tetangga. Kira-kira jam 19.00 makan malam, setelah makan malam, perempuan masih cuci piring, sedangkan pria sudah santai sambil isap rokok. Setelah cuci piring, mungkin suami mulai tidur pulas tetapi perempuan mempersiapkan makanan untuk esok paginya seperti titi jagung atau tumbuk padi.

Gambaran kesibukan perempuan desa yang hampir tak punya waktu untuk bersantai atau mengobrol seperti laki-laki. Hal ini sangat dirasakan oleh perempuan terutama dari stara bawah. Pola relasi gender masih timpang bahkan belum berlaku untuk perempuan kampung. Sampai saat ini belum ada terobosan atau solusi yang dilakukan oleh pemerintah terutama dari badan pemberdayaan perempuan paling tidak melakukan penyadaran tentang polarelasi gender.

Berbicara tentang pola relasi gender memang bukan hal yang mudah karena ibarat sepeda menabrak tebing, namun sesungguhnya tebing tidak selamanya angkuh karena kokohnya, paling tidak ada upaya untuk menaklukannya, kalau tidak dibobol paling tidak ada yang berani karena masih ada atlet-atlet handal yang berani memanjat tebing feodalisme. (*)

untuk versi cetak bisa didownload disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *