Selendang Merah dari Sumba Timur

image001

JOURNALIST VISIT PEDULI UNTUK MASYARAKAT ADAT YANG TEREKSLUSI DI SUMBA TIMUR

Barisan  para tokoh  berpakaian adat lengkap mengiringi Kepala Desa Meorumba dengan diiringi Tarian Harama menyambut rombongan Tim Kemitraan dan wartawan nasional maupun lokal ke Desa Meorumba, 22-25 April 2016. Sebaris gadis cantik berpakaian adat membawa talam berisi empat helai selendang, Mas Yaury, mas Mering, mbak Siska dan saya dikalungkan selendang  khas Sumba, bahkan wakil Bupati Sumba Timur pun tak mengalami momen ini.  Bagi masyarakat Sumba Timur, penyambutan dengan Tarian Harama biasanya digunakan untuk menyambut para pahlawan usai dari medan peperangan. Masyarakat berarak sepanjang jalan sambil meneriakan yel- yel asli Sumba Timur yang di sebut kayaka. Gong dan tambur terus bertalu seirama gerakan kaki dan tangan penari mengayunkan pedang dan tombak.

Kedua tangan Domi – sopir kami – dengan cekatan memegang kemudi mobil yang kami tumpangi, baginya jalan berbatu menuju ke lokasi dampingan Samanta di Meorumba, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur adalah hal biasa. Roda mobil seperti­nya paham kemana jalur yang akan dilalui. Padahal kami yang ada di dalam mobil terombang-ambing. Bagi masyarakat Meorumba dan Mauramba kondisi jalan ini makanan sehari-hari jikalau menuju ke kota kabupaten atau ke­camatan.

“Aduh..!…aduh…” jerit mbak Siska menahan rasa takut ketika sesekali mobil tidak mampu menaiki tanjakan tajam atau sesekali antret mengambil ancang-ancang. Wartawati Kantor Berita ANTARA ini terlihat pucat pasi dan berkeringat dingin. Dari raut wajahnya kalau ia sa­ngat gugup. Wajar saja, terkadang roda- roda mobil HILUX ini berputar ditempat seakan beradu dengan keri­kil-kerikil yang berserakan tanpa aturan. Batu-batu talfod ukuran besar justru mengganggu pergerakan roda mobil, dan butuh kesabaran sang sopir agar tidak tergelincir diluar jalur. Kalau dengan mobil saja sudah begitu susah, bagaimana jika dengan motor?.

Perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa, ini merupakan kegiatan “JOURNALIST VISIT PEDULI UNTUK MASYARAKAT ADAT YANG TEREKSLUSI DI SUMBA TIMUR” yang diikuti oleh Tim Kemitraan, Utusan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Wartawan Antara, dan Wartawan Jurnal Nasional ke Desa Mauramba dan Meorumba. Dengan jarak tempuh sekitar 80 km dari Kota Waingapu, tim tak henti-hentinya mengagumi keindahan alam Sumba Timur, berkali-kali mengabadikan momen dan objek yang dilalui, manusia, rumah, kuda, pohon dan bentang alam, burung dan apa saja yang menarik untuk difoto, sehingga perjalanan yang biasanya dapat ditempuh 2 jam molor menjadi 3 jam lebih.

Kejutan kembali didapatkan rombongan ini. Masyarakat Desa Meorumba mengadakan penyambutan adat dan ada sekitar 200 orang yang hadir. Sungguh suatu diluar prediksi kami, walau kami sudah berkoordinasi untuk persiapan seperti tempat menginap, konsumsi dan rute kunjungan, tapi tak pernah terbayangkan ma­syarakat Desa Meorumba mengadakan penyambutan adat yang sangat meriah ini. Samar-sama Kampung Uma Jawa, Desa Meorumba mulai terlihat Dari kejauhan bunyi gong dan tambur, alat kesenian tradisional Sumba sayup-sayup memggema memantul dicelah-celah lembah yang masih tampak menghijau. Ringkik kuda sandlewood berjalan perkasa diantara sekian kuda betina. Itulah ciri khas daratan Sumba yang bia­sanya disebut negeri kuda.

Sekitar lebih 500 meter lagi dari Kampung Uma Jawa, sekelompok penari menyambut kedatangan tTim Kemitraan. Penari lelaki dan perempuan itu begitu lincah memainkan pedang dan tombak. Tarian ini adalah tarian khas pahlawan Sumba yang disebut Harama. Konon cerita tarian ini adalah sebuah tarian adat Sumba yang sering digunakan menyambut para pahlawan ketika pulang dari medan perang tempo dulu. Kerumunan manusia membuat kami berempat ibarat rusa yang terkepung pemburu. Masyarakat berarak sepanjang jalan sambil meneriakan yel- yel asli Sumba Timur yang di sebut kayaka. Gong dan tambur terus bertalu seirama gerakan kaki dan tangan penari mengayunkan pedang dan tombak.

Kepala Desa Meorumba, Umbu Balla Nggiku menyambut kedatang­an Tim Jurnalistik diiring tokoh agama serta dilakukan pengalungan empat selendang Sumba kepada rombongan. Sungguh…sebuah penghormatan yang luar biasa dari masyarakat. Tanpa sadar beberapa dari kami menitiskan air mata. Air mata kebahagiaan dan bangga, bahagia karena orang Sumba sangat menghormati siapa saja tamu yang datang asal denga niat baik. Bahagia karena sambutan secara budaya terhadap tim kemitraan menceritakan bahwa budaya Sumba belum hilang di bumi Nusantara.

Tidak lama kemudian, sebaris perempuan setengah baya berjejer membagikan sirih dan pinang, sebuah tradisi budaya yang masih kental. Pemerian sirih pinang pada sang tamu menandakan bahwa kita diterima masuk dalam rumah seseorang. Aroma sirih pinang berbaur dengan kepulan rokok daun berbalut pucuk lontar.

“Harus dimakan yah?” tanya mbak Siska sambil menimang-segenggam sirih dan pinang.
“Paling tidak diambil dan digenggam,“ jawab mas Yaury sudah faham dengan budaya setempat.
“Andainya tidak diambil sama sekali?” tanya Siska lagi ingin tahu.
“Dianggap tidak sopan dan tidak menghargai tuan rumah.” balas mas Mering.

Tak lama berselang, dua pasang wunang (juru bicara adat) duduk bersimpuh di depan para tamu. Syair-syair bahasa sakral dalam lantunan merdu ibarat membaca puisi dengan intonasi yang cukup teratur. Baitan- baitan bahasa sastra ala Kromo Inggil Keraton Jogja memecah keheningan malam. Pesannya adalah selain ucapan selamat datang untuk sang tamu, harapannya agar apa yang dilihat, di dengar dan dirasakan tentang kondisi ril masyarakat Meorumba disampaikan kepada para pemimpin Negara.

Masyarakat Desa Meorumba bukan berharap akan mendapat hadiah dari Tim Kemitraan. Penyambutan ala budaya Sumba dengan prosesi adat sakral berirama syair adat bahasa wunang (syair bahasa adat) bukan tanpa alasan..”Umbuuu….nama janga ya na tana, nama ngadu ya na luku, pangga mu pataka aru kinya ,, lai ina mbulungu, i , ama mbulungu, jaka nggara ya na pa ilu mu la mata, nggara ya napa ndata mu la huratu.” Artinya “Umbu (panggilan terhormat untuk bangsawan) yang menjelajah bukit dan menelusuri sungai (Jurnalis dan Kemitraan ), sampaikanlah kepada Ibu Menteri maupun bapak Presiden, tentang kondisi kami masyarakat di Desa Meorumba. Demikian salah satu pesan moral para juru bicara adat (wunang) dalam prosesi adat penerimaan tim pada malam itu

Animo masyarakat terhadap program Peduli sangat tinggi, tidak heran ketika tim Kemitraan berkunjung ke desa ini kehadiran masyarakat justru diluar dugaan. Menurut ketua panitia penyambutan tim, Umbu Lay Ria jumlah warga yang makan pada malam tanggal 22 April 2016 ada 280 orang. Secara tidak langsung, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebanyak itulah yang masyarakat yang menyambut Tim Jurnalis dan Kemitraan. Malam itu di Desa Meorumba berubah terang benderang oleh cahaya listrik walau hanya genset pinjaman. Masyarakat dan pemerintah desa kelihatan gembira, keiklasan dan ketulusan mereka jelas tergurat dari wajah-wajah penuh senyuman saat menyodorkan sirih pinang kepada sang tamu.
“Dari dulu belum ada penyambutan secara budaya semeriah ini?” tanyaku
“Waktu pak Wakil Bupati datang saja belum begini.” itu bisik-bisik masyarakat setempat.

Terus apa yang membuat mereka sesemangat ini? Ada kesadaran dari Pemerintah setempat dan masyarakat. Sadar kalau kehadiran Jurnalis adalah kesempatan untuk menyuarakan pendapat. Perubahan paling menyolok adalah antusias dari Pemerintah Desa mulai dari Kepala Desa dan perangkatnya. Mereka mampu dalam mengorganisir masyarakat dalam kunjungan tim. Persoalan paling sulit dalam pendampingan LSM ditingkat desa adalah ketika Kepala Desa tidak mendukung program dan masyarakat tidak merasa memiliki program itu sendiri. Hal ini terjadi karena Pemerintah Desa dan masyarakat sangat memahami arah perjuangan program Peduli. Perubahan berikutnya adalah ketika masyarakat yang dulunya cenderung meminta dana kini berubah menjadi ingin tahu dan meminta solusi. Berbeda pada 3-4 tahun sebelumnya, jangankan tamu dari Jakarta dengan LSM Lokal saja mereka bertanya macam-macam.
Namun kali ini sangat berbeda, masyarakat lebih banyak bertanya dan mengeluh tentang kondisi kesehatan, pendidikan, sarana dan prasarana. Sesekali mereka memohon tentang beberapa hal.

“Pak, mohon sampaikan pada pemerintah pusat agar mendorong pemda supaya jalan di Desa Meorumba diperhatikan.” kata Bapak Dundu Kamendak dari Dusun Tanatuku.
“ Kami ingin sekolahkan anak tetapi tenaga Guru PNS hanya satu orang bagaimana caranya?” Tanya ibu Maria di La kombu.
“Pak di Puskesmas Pembantu (Pustu) sering kehabisan obat, bagaimana solusinya?” tanya Kopa Maramba.
“Ibu wartawan, kami aliran kepercayaan Marapu sering disebut kafir.” kata Tunggu Jama.
“ Pak kami tinggal dalam kawasan hutan lidung tetapi tidak boleh bangun jalan, bagaimana kami bisa sejahtera? “ tanya Pak Goris.

Masih ada puluhan bahkan ratusan pertanyaan masyarakat yang disampaikan pada kunjungan tim Kemitraan. Mas Yaury dan Mering berusaha memberi jawaban dan menawarkan solusi pada masyarakat. Entah puas atau tidak puas dengan jawaban tersebut, masyarakat tetap saja mengangguk tanda menghargai jawaban seseorang karena merasa dihargai.
Pernyataan sangat mengejutkan dari masyarakat adalah sejak tahun 2002 sampai saat ini baru 500 meter ruas jalan Mauramba – Meorumba yang diaspal. Menurut mereka, setiap proses pembangunan sangat diwilayahnya sangat lamban dibandingkan dengan desa-desa lain disekitar mereka. Tidak saja pada pembangunan fisik tetapi termasuk pelayanan dasar.

“Kami sering jadi korban politik,”.
“Pembangunan sering dikaitkan dengan besarnya dukungan terhadap paket tertentu.” kata seorang ibu yang tidak mau disebut namanya. Justru yang paling menarik kali ini, malah perempuan yang begitu bersemangat untuk bersuara walau harus menggunakan penerjemah.
Benar atau tidak pernyataan ini kita tidak tahu, namun jelas Mauramba dan Meorumba masih jauh ketinggalan dibandingkan desa-desa lainnya. Jika menoleh pada sejarah desa, kedua desa ini merupakan desa tertua di Kabupaten Sumba Timur. Dahulu ke dua desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Paberiwai. Beberapa tahun kemudian Kecamatan Paberiwai di mekarkan lagi menjadi Dua Kecamatan yaitu Kecamatan Karera. Waktu itu Desa Mauramba dan Meorumba masih di wilayah Kecamatan Paberiwai. Kemudian ada pemekaran kecamatan baru yang dibagi menjadi tiga wilayah lagi yaitu Kecamatan Matawai Lapawu dan Kecamatan Kahaungu Eti. Desa Mauramba dan Meorumba berada di wilayah Kecamatan Kahaungu Eti sampai sekarang. Benarkah semangat pemekaran wilayah untuk mendekatkan pelayanan? Terus, kenapa desa pemekaran baru terkadang lebih maju dari desa induk? Pertanyaan ini mungkin menjadi pekerjaan rumah semua pihak terutama pemerintah.

Tumpukan persoalan dan keluhan masyarakat pada malam itu di Dusun Jangga Meha benar-benar telah tereksplorasi, tinggal bagaimana mengolahnya . Program Peduli seolah-olah sebagai malaikat penolong. Kehadiran media nasional tidak disia-siakan oleh masyarakat. Mas Yaury benar-benar di daulat oleh masyarakat sebagai duta mereka untuk menyampaikan persoalan – persoalan desa pada pemerintah pusat. Tidak sebatas pesan lisan, para penganut keyakinan Marapu melakukan ritual hamayang kepada para leluhur agar tim Kemitraan diberi hikmat dan kebijakan dalam memperjuangkan persoalan mereka.

Suasana haru berbalut sedih tergambar ketika masih di kampung Maukabunu, terutama para ibu. Mungkin saja selama i ni mereka belum pernah merasakan keakraban yang begtu erat dari orang luar.
“Dari dulu belum pernah ada orang Jakarta yang mau tinggal di rumah rakyat “.
“ Baru sekarang ada pejabat yang mau makan dirumah jelek’

Tak lama kemudian, mobil yang kami tumpangi mulai memanaskan mesinnya. Berarti sebentar lagi kami hendak pulang ke kota. Sebentar lagi kampung itu akan kembali sunyi berselimut gulita seperti biasanya. Puluhan pasang mata kelihatan berbinar,bahkan adayang sudah menitiskan air bening. Mereka adalah perempuan-perempuan kampung yang kehilangan sahabat walau hanya dalam satu malam.
Dibalik rasa bangga dan bahagia, ada beban dalam hati saya, beban sebagai seorang fasilitator. Jika mengalungkan selendang kepada tamu adalah hal yang lumrah dalam budaya masyarakat Sumba. Namun jika masyarakat atau pemerintah desa turut mengalungkan selendang di leherku? Patut dicerna. Secara ekonomis, harga sehelai selendang mungkin tak seberapa, tetapi yang aku pikirkan adalah bagaiman menghargai penghargaan masyarakat yang selama ini aku dampingi.(*) Laporan Stepanus Landu Paranggi

untuk versi cetak download di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *