Impian Kelompok Perempuan “Ndaku Mbuata Monung”

edisi 1

Masyarakat desa Meorumba masih layak disebut terisolir dan tertinggal. Untuk mencapai desa saja membutuhkan keberanian jika menggunakan kendaraan roda. Buruknya sarana dan sarana transportasi adalah salah satu faktor kesulitan untuk memperoleh akses informasi. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada minimnya pendapatan keluarga disebabkan semakin tingginya harga kebutuhan pokok sedangkan komoditi masyarakat semakin murah.
Bukan saja masalah harga yang mahal, lebih parah lagi kalau stokter kebutuhan pokok seperti minyak tanah, bensin, beras, sabun, gula dan sebagainya tidak tersedia lagi di desa. Di desa Meorumba hanya ada satu buah kios yang terletak di Laitenggi, kalaupun ada yang coba jualan tidak ada yang bertahan lama, dua atau tiga bulan sudah gulung tikar. Permasalahan yang bangkrut bukan karena salah manajamen atau hancur karena ada yang bon barang. Masalahnya adalah transportasi. Tarif DAMRI Rp. 35.000 sekali jalan, berarti pulang pergi Rp.70.000 belum termasuk ongkos barang. Ongkos barang misalnya 1 doz super Mie Rp.5000. 1 karung bobot 50 kg, Rp. 10.000, kalau 1 karung 100 kg berisi wortel atau bawang merah Rp. 20.000 – Rp.25.000 tergantung isinya. Kalau sudah demikian, masyarakat jadi trauma untuk buka kios.

Kelompok Usah Bersama Simpan Pinjam ( UBSP ) Ndaku Mbota Monung di Labunggur, desa Meorumba berupaya merubah kondisi merea. Kelompok yang awalnya hanya mengurus gotong royong dan usaha simpan pinjam, kini memperluas usaha­nya dengan usaha Kios kelompok.

“Kios kelompok cukup membantu ang­gotanya dalam memperoleh kebutuh­an sehari-hari”.

“Kami tidak lagi meminjam direntenir” kata Ibu Kahi Ana Amah sebagai ketua.

Dalam proses distribusi barang secara gotong royong 12 anggotanya me­ngantar komoditi ke jalan raya sejauh kurang lebih 7 km untuk di angkut ke kota dan dipasarkan. Sekembali dari kota, mereka belanja sembako dan dijemput bersama 12 anggota untuk diangkut ke Labunggur. Begitulah seterusnya setiap minggu dua sampai tiga kali angkut barang dengan berjalan kaki.

Berangkat dari kondisi inilah kelompok ini memiliki sebuah impian atau cita-cita. Mereka mulai mempengaruhi kelompok lainya (kelompok laki-laki) untuk bersatu membangun kekuatan. Alasannya petani harus bersatu, untuk bersatu dibutuhkan suatu kekuatan yaitu kebersamaan. Tak tanggung-tanggung, 18 anggota kelompok laki-laki Ndaku Mbuata Monung melebur diri untuk membentuk 1 unit usaha. Usaha tersebut yaitu pemasaran komoditi bersama. Selain itu mereka memiliki keinginan untuk membentuk KOPERASI atau sejenisnya.

Keberanian kelompok perempuan ini dipandang sebagai hal yang luar biasa. Luar biasa karena berhasil mempengarruhi orang lain , apa lagi yang dipengaruhi adalah laki-laki.

Tidak kuatir kalau berkelompok atau berusaha dengan laki- laki ?, tanya pak Stef dicelah-celah pertemuan kelompok.
“Tidak ada yang dikuatirkan , dalam kelompok ada aturan main” Ibu Since.

Pada 13 April 2016 SAMANTA melakukan pendampingan pada Kelompok Ndaku Mbota Monung yang tidak lagi hanya 12 anggota tetapi 30 anggota. 18 orang diantanya adalah laki-laki. Tujuan pertemuan ini adalah membentuk kelompok pengelola usaha pemasaran bersama.

“SAMANTA tolong fasiltasi pembuatan AD/ ART kelompok pemasaran,“ kata ibu Since sebagai sekretaris kelompok.

“Apa pentingnya AD?/ ART?”, tanya pak Stef.

“AD/ ART adalah undang-undang dalam kelompok pemasaran, kalau ada ang­gota, biar dia laki-laki tidak patuh pada AD/ ART dikasih keluar dari kelompok” sambungnya.

Perubahan yang luar biasa. Pe­rempuan yang selama ini tidak mengerti berorganisasi apa lagi aturan organisasi sudah mampu bersuara. Selain itu pada awalnya perempuan yang terakomodir dalam kelompok ini 70% adalah buta huruf atau tidak bisa baca tulis, 30%nya tidak tamat SMP.

Tapi jangan keliru, mereka cukup mengerti dengan administrasi dan keuang­an kelompok. Mereka cukup hafal yang namanya cara bagi pembagian sisa hasil usaha (SHU).

Mungkin hal inilah yang menarik perhatian Kepala Desa Meorumba Umbu Balla Nggiku sehingga menyempatkan diri melakukan kunjungan khusus pada kelompok tersebut.

“Saya bangga dengan perempuan di Labunggur karena telah mengharumkan nama Desa Meorumba,” katanya di­sela-sela pertemuan kelompok.
“ Silakan usulkan apa saja, saya siap mengakomodir.”

“Desa kita sudah punya uang banyak, dana sebanyak ini untuk masyarakat dan bukan untuk aparat Desa,” katanya penuh semangat.
Bahkan Kepala desa berjanji, jika tidak menyalahi petunjuk teknis penggunaan dana desa, ia akan menambah modal kelompok pemasaran.
Pada kesempatan ini Kepala desa menyerahkan buku rekening dan cap kelompok pada kelompok perempuan Ndaku Mbuata Monung. Untuk diketahui, pada bulan Maret 2016, kelompok ini telah membuka rekening kelompok BRI. Selain kenyamanan dan keamanan penyimpanan uang, juga bermanfaat untuk memnumbuh kembangkan budaya menabung pada masyarakat miskin. Sebahagian dari modal awal pembukaan rekening berasal dari pihak ke tiga ( yang enggan disebut namanya). Sedangkan pembuatan cap kelompok dibantu oleh pemerintah Desa, atas dasar inilah Kepala Desa menyerahkan buku rekening dan cap secara resmi.

“Jika anda menanam jagung dari sebutir menjadi setongkol, saya yakin saudari-saudari anggota kelompok mampu mejadikan uang yang sedikit ini menjadi banyak,” kata Kepala Desa.

Ada sebuah kutipan menarik dari kepala desa “Lebih baik kita jago menabung dari pada jago meminjam.” katanya yang disambut tepuk tangan peserta pertemuan.

Perubahan menarik pada kelompok ini tidak saja karena kesuksesan kelompok mempengaruhi kelompok lain dalam pemasaran bersama. Kelompok ini telah mampu menarik perhatian pemerintah desa yang selama ini tidak pernah terjadi. Hal itu diakui sendiri oleh Kepala Desa, “Sejak Kepala Desa terdahulu kelompok memang sudah ada tetapi belum pernah ada yang bertahan apa lagi punya impian besar seperti kelompok ini” katanya.

Hal ini juga yang membuat pemerintah desa pemalas untuk berkunjung apa lagi mendampingi karena mental kita pada tahun-tahun sebelumnya hanya mental menghabiskan. “Kita patut ber­terima kasih kepada Program Peduli yang telah berhasil melakukan revolusi mental, dari mental ingin mendapat bantuan, menghabiskan bantuan, dan meminta kembali bantuan” sambung kepala desa agak bercanda.

Umbu Nai Ndima, salah satu tokoh masyarakat di Labunggur, baru kali ini kepala Desa tertarik untuk hadir dalam pertemuan kelompok. Dulu Pemerintah Desa lebih sibuk dengan kegiatan-kegiatan formal ditingkat pemerintahan. Selain itu mereka lebih tertarik memenuhi undangan keluarga atau upacara adat. Kalau pada hari ini Kepala Desa turut hadir dalam kegiatan kelompok dan memberi motivasi serta dukungan itu adalah perubahan yang luar biasa katanya.

Kisah diatas adalah sebahagian kecil dari perjuangan kelompok dalam mempertahankan hidup. Melihat perubahan memerlukan waktu yang panjang dan pengorbanan. Namun apa yang dilakukan oleh pemerintah Desa merupakan langkah maju kedepan untuk mendorong keberdayaan masyarakat miskin. Hal ini penting, karena tanpa dukungan Pemerintah dan pihak lain akan sulit untuk mendapatkan perubahan hidup masyarakat.

Fasilitator atau Program Peduli bukanlah dewa penyelamat, yang penting adalah bahwa masyarakat sudah berani memulai. Yang terpenting adalah bagaimana mengawal yang sudah ada agar tetap terpelihara. Strategi keberlanjutan program yang sudah dirintis perlu terobosan dan keberanian. Sudah merupakan penyakit kronis kalau pendampingan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM ) sudah selesai semangat masyarakat mulai pudar bahkan hilang. Selain dari itu pergantian pemimpin ditingkat desa sering mempengaruhi proses pemberdayaan masyarakat. (Yohanis Landu Praing)

untuk versi cetak download di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *