Komitmen Kuat, Agar Bidan Desa tak Sekadar PPP

bidan1

Suatu hari seusai hujan lebat, Perawat Niwa Lepir mengikuti kegiatan posyandu di Kampung Maukabunu Dusun Tanatuka Desa Meorumba yang jaraknya sekitar 4 km dari Pustu. Sebelum bertemu Bapak Desa – sebutan untuk Kepala Desa- Umbu Balla Nggiku, ia berjalan dari pustu. Bapak Desa menawarkan untuk mengantarkan ke lokasi posyandu dengan kendaraan roda dua. Jalanan yang licin dan berlumpur membuat laju kendaraan jadi susah bergerak. Begitu menanjak pendakian Maukabunu, motor tergelincir karena licin. Rupanya roda motor tak mampu menaklukan cadas putih dipendakian. Dan Bapak Desa jatuh tertimpa motor, sedangkan Niwa terlempar sekitar 3 meter. Niwa berupaya sekuat tenaga meng­angkat besi berat itu agar Bapak Desa bisa bangun. Untung tidak ada yang luka parah.

Laporan Stepanus Landu Paranggi (Pendamping Program Peduli)

Menjadi Bidan di desa terpencil seperti di Meorumba tak hanya dibutuhkan ke­ahlian yang mumpuni dalam bidang medis, di­butuhkan komitmen yang kuat untuk bertahan dengan segala kekurangan. Selain kondisi alam yang kurang bersahabat, kondisi sosial pun menjadi tantangan tersendiri. Namun, apabila sudah menemukan rohnya, maka akan menjadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan, bukan materi tapi penghargaan dari masyarakat yang telah dibantunya.

Kehadiran tenaga medis di desa adalah harapan masyarakat, paling tidak beban penderitaan masyarakat miskin semakin berkurang. Masyarakat tidak lagi berobat ke dukun atau pergi ke puskesmas yang jarak­nya cukup jauh. Masyarakat juga tidak lagi bergantung obat-obatan yang dijual di kios atau toko-toko eceran. Penempatan tenaga medis di desa terpencil dan terisolir ibarat prajurit yang siap berperang di garis depan. Sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung proses awal mempertahankan nyawa manusia dan memberantas sumber penyakit berawal dari mereka. Pejuang seragam putih, pembela nyawa manusia ini telah membuktikan ketulusan mereka dalam karya dan bakti pada nusa dan bangsa.

Pondok Sinyal. salah satu kesulitan di Desa  Meorumba adalah layanan komunikasi. Warga harus rela naik bukit setinggi 150 meter untuk mencari sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga atau pekerjaan. Dan harus antri tak lebih dari 3 orang.

Pondok Sinyal. salah satu kesulitan di Desa Meorumba adalah layanan komunikasi. Warga harus rela naik bukit setinggi 150 meter untuk mencari sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga atau pekerjaan. Dan harus antri tak lebih dari 3 orang.

Tugas di desa terpencil seperti di Desa Meorumba memerlukan komitmen yang kuat, jika tidak petugas yang ditempatkan disana hanya akan menyandang gelar PPP (Petugas Pergi Pulang). Pada tahun 2010 pernah ada tenaga Medis yang ditempatkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Meorumba, sayangnya tidak lebih dari pengunjung musiman yang datang dan pergi tidak menentu kemudian hilang entah kemana pada hal ia seorang tenaga perawat laki-laki. Ketika itu gedung Pustu Meorumba berubah fungsi menjadi sarang burung Seriti karena lama tidak berpenghuni. Disisi lain derajat kesehatan semakin terpuruk terutama bagi masyarakat miskin dan lanjut usia.

Maret 2015, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur menempatkan dua orang tenaga medis di Meorumba, Perawat Niwa Lepir. A.Md.Kep. dan Bidan Lidia Kabihu Nahu. A.Md. Keb. Sedikit demi sedikit persoalan kesehatan masyarakat dapat teratasi. Bayi dan balita sudah rutin mengikuti kegiatan posyandu, orang miskin tidak lagi mengeluh tentang biaya transportasi ke Puskesmas dan lain-lain.
“Sejak Maret 2015 sampai dengan Mei 2016, sudah tidak ada lagi kasus gizi buruk dan ibu melahirkan di rumah, semua pemeriksaan telah dilakukan di fasilitas kesehatan” kata Niwa Lepir suatu ketika.

Sejak ditempatkan di desa tersebut, banyak hal yang sudah dirasakan dalam segi kesehatan di masyarakat. Perubahan yang sangat menyolok adalah kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) sudah ber­kurang dari 40% menjadi 80%. Keberhasilan ini tidak diklaim sebagai upa­ya mereka semata-mata tetapi atas dukungan pemdes. Memang diakui bahwa hanya kira-kira 0,5% yang memiliki WC permanen selebihnya adalah WC darurat atau cemplung. Hal ini sangat wajar mengingat sebagian besar pemukiman masyarakat jauh dari sumber air.

Selain itu, kemudahan mengakses layanan kesehatan yang semakin mudah dibandingkan tahun 2014 kebawah. Ketika itu penderita sakit terutama orang miskin yang tidak punya motor sangat sulit untuk meng­akses layanan ke Puskesmas. Walaupun ada jamkesmas atau jamkesda mau tidak mau harus mengeluarkan biaya transportasi kurang lebih Rp. 50.000 untuk bayar ojek pulang pergi. Kini bagi penderita sakit ringan mereka sudah dapat berobat ke Pustu Meorumba sedangkan untuk lanjut usia dan penderita sakit berat kita melakukan pelayanan di rumah. Kalau tingkat penderitaannya tidak dapat diatasi di Pustu baru dirujuk ke Puskesmas.

Dalam hal kesehatan Ibu dan anak (KIA) selain ada peraturan Daerah (Perda KIA), kesadaran masyarakat dalam mengikuti kegiatan Posyandu semakin meningkat. Sebelumnya kegiatan Posyandu seolah-olah di­lihat sebagai ajang untuk mengetahui naik turunnya berat badan bayi dan balita. Kini masyarakat semakin sadar bahwa kegiatan posyandu adalah demi menjamin keselamatan ibu hamil, anak dalam kandungan dan anak-anak usia di bawah Lima tahun. Dulu kegiatan posyandu hanya menjadi beban bagi perempuan, misalnya ibu yang masih menyusui tetapi masih ada Balita. Mereka harus menggendong anak bayi sekaligus balita ke posyandu. Kebiasaan ini dimungkinkan karena budaya setempat yang berpendapat bahwa urusan anak-anak adalah urusan perempuan tanpa sadar disitu ada ketimpangan gender. Kini laki-laki sudah terlibat ke posyandu membantu istri mereka mengantar balita untuk mendapat pelayanan.

Pada tahun 2015, SAMANTA melalui Program Peduli telah memfasilitasi kegiatan sosialisasi tata cara pengurusan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat dan Jaminan Kesejahteraan Nasional (KIP,KIS dan JKN). Berangkat dari pengalaman tersebut pemdes dan fasilitator Program Peduli melakukan lobi ke Dinas kesehatan kabupaten Sumba Timur, Tujuannya agar masyarakat miskin mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), hasilnya 184 KK miskin di desa Meorumba mendapat KIS, sedangkan desa Mauramba ada 111 KK miskin.
Persoalan terkait peningkatan derajat kesehatan masyarakat masih menyisahkan tumpukan persoalan seperti kekurangan sumber air bersih, buruknya sarana dan prasarana transportasi dan keterbatasan alat kesehatan di pustu.

“Masyarakat Desa Meorumba ramah dan suka menolong, kami tidak pernah beli sayur, ubi, pisang bahkan ada yang bawa ayam. Disini kami merasa aman tidak ada gangguan baik pencurian atau laki-laki nakal seperti yang pernah dikeluhkan teman bidan atau perawat yang tugas di desa lain,” ujar perawat Niwa.

“Kemanapun kami pergi, ma­syarakat memperlakukan kami se­perti keluarga sendiri dan pemerintah Desa sangat respon dan kerjasama,” sambut bidan Lidia

Terus, dukanya? Banyak…. “Tapi kami menikmatinya dengan rasa se­nang,” tutup bidan Lidia. (*)

untuk versi downloadnya disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *