Sebagai Contoh  BerhasiL, Desa Rempek Mendapat Kunjungan Dari 8 Negara

Sebagai Contoh BerhasiL, Desa Rempek Mendapat Kunjungan Dari 8 Negara

            Pada Hari Kamis, 18 Mei 2017 , Rempek salah satu Desa Kabupaten Lombok Utara yang telah menjalan kan Program  Kemitraan Kehutanan (KK) sejak tahun 2013. Latar More »

Pembagian Bantuan Bibit Sengon Dari SAMANTA

Pembagian Bantuan Bibit Sengon Dari SAMANTA

Tahun 2016-2017 Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (SAMANTA), melalui Program  “Kemakmuran Hijau” atau Kebun Bibit Desa (KBD), yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I, telah membagikan bantuan bibit More »

“Pertemuan Asistensi Kelompok Usaha”

“Pertemuan Asistensi Kelompok Usaha”

Samanta NTB- sebagai rangkaian tindak lanjut kegiatan  melalui Program  “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I,  Pada hari senin dan Selasa tanggal 8 – 9 More »

“Lokakarya Pembentukan Kelompok Usaha”

“Lokakarya Pembentukan Kelompok Usaha”

Pada Hari Senin dan Selasa Tanggal 10 – 11 April 217 yang lalau Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (SAMANTA), melalui Program  “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung More »

Proses Pembuatan Kripek Bersama Anggota Kelompok Usaha “TiTiaN RiNjAnI”

Proses Pembuatan Kripek Bersama Anggota Kelompok Usaha “TiTiaN RiNjAnI”

Pada Hari Selasa, 21 Maret 2017_ Antusias ibu-ibu  Desa Lantan Batu Kliang Utara Lombok Tengah  Dalam Proses Pembuatan Kripek Pisang. Sebagai rangkaian dari program “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama More »

Pelatihan Kopi Sambung Di Lombok Tengah

Pelatihan Kopi Sambung Di Lombok Tengah

SAMANTA_ Pada tahun 2007 , kemntrian kehutanan mengeluarkan SK Penetapan Area kerja HKM seluas 1,800,09 ha , meliputi desa Aik Berik, Lantan, Karang Sidemen dan Seteling. Ke empat lokasi HKm tersebut berada More »

 

Sebagai Contoh BerhasiL, Desa Rempek Mendapat Kunjungan Dari 8 Negara

ew
"Peserta 8 Negara Mengunjungi Lokasi KK Desa Rempek"

“Peserta 8 Negara Mengunjungi Lokasi KK Desa Rempek”

 

 

 

 

 

 

Pada Hari Kamis, 18 Mei 2017 , Rempek salah satu Desa Kabupaten Lombok Utara yang telah menjalan kan Program  Kemitraan Kehutanan (KK) sejak tahun 2013.

Latar belakang masuknya Kemitraan Kehutanan Desa Rempek ialah masyarakat desa rempek yang sebagian dari mereka dengan terpaksa merambah hutan untuk bertahan hidup dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Dari jumlah penduduk desa Rempek  2.443 KK Hampir 60% masyarakat rempek hidupnya tergolong miskin, dan sebarannya rata-rata dipinggiran hutan atau yang berbatasan langsung dengan hutan. Dari 16 dusun di desa Rempek terdapat 5 dusun yang berbatasan langsung dengan hutan, diantaranya dusun Soloh Atas, Kuripan, Jelitong, Busur, Busur Barat.

Pada hari senin pagi sekitar jam 10.00 wita tempatnya tanggal 10 Juni 2013, Kepala Desa, BPD, KPH-Rinjani Barat, Dinas Kehutanan KLU, SAMANTA, 5 Kepala Dusun, Tokoh Masyarakat, dan masyarakat sekitar kawasan hadir dalam pertemuan sosialisasi HTR yang pada waktu itu dilaksanakan di pasar umum Rempek, tidak terkeculai beberapa perwakilan dari dusun yang berbatasan langsung dengan hutan.

Seiring perjalanan waktu, regulasi kebijakan juga berkembang. Kemitraan Kehutanan yang diatur oleh peraturan mentri kehutanan no. 39 tahun 2013, dipandang sebagai tantanagn dan peluang. Pada awalnya skema PHBM lebih diarahkan pada skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Datingnya regulasi baru disambut baik oleh pemangku kepentingan di Rempek, tidak terkecuali kepala desa Rempek bapak Rinadim. Pembahasan dan diskusi pemahaman tentang regulasi yang baru (permenhut.No.39 tahun 2013) dilakukan kemudian bersama pengurus koperasi kompak sejahtera. Pertemuan multipihak pun dilakukan guna memperdalam pemahaman tentang regulasi yang baru, tidak terkeculai bersama Dinas Kehutanan Lombok Utara (BPPKKP). Diskusi tentang pendalaman tidak hanya dilakukan bersama masyarakat, di tingkat Samanta sendiri dilakukan diskusi pendalaman tentang kemitraan kehutanan beserta kekurangan dan kelebihan.

Kesamaan pemahaman dicapai setelah melakukan diskusi bersama multipihak, dan kemudian masyarakat dihadapkan pada pilihan skema. Bersama pengurus koperasi dan pengurus blok yang disepakati terakhir lebih memilih pada skema Kemitraan Kehutanan. Setelah tercapai kesepakatan pilihan, bersama multipihak kemudian dilakukan perencanaan bersama dalam menyongsong dan mengawal pelaksanaan Kemitraan Kehutanan dan KPH Rinjani Barat menjadi leading sektornya. Tidak terkeculai, kami bersama KPH Rinjani Barat dan pengurus koperasai memulai membuat rencana kerja organisasi, termasuk rencana kerja umum dan renana kerja tahunan. Salah satu rencana kerja jangka pendek organisasi mempersiapkan persyaratan-persyaratan kelengkapan dalam kemitraan kehutanan.

Bersama KPH Rinjani Barat, SAMANTA dan Koperasi Kompak Sejahtera, kemajuan-kemajuan mulai dirasakan salah satunya adanya draf kesepakatan / MoU Kemitraan Kehutanan sebagai mana yang disyaratkan dalam Permen 39 tahun 2013. Selain sudah rampung draf MoU yang dibuat bersama, pengurus koperasi dan pengurus blok saat ini sedang melakukan pendataan potensi kawasan. Berkenan dengan persyaratan hokum koperasi sebagai syarat dari perjanjian , kami sempat mengalami hambata. Ketika kami mengurus persyaratan untuk membuat badan hokum koperasi, dengan UU no 17 tahun 2012 tentang koperasi kami sempat mengalami kevakuman. Dinas koperasi mengalami kesulitan untuk memproses dikarenakan PP dari UU tersebut sampai sekarang masih belum terbit,sehingga untuk memunculkan bdan hokumnya harus menunggu PP yang baru.

“Waktu terus berjalan, rajut-rajut mimpi dan harapan akankah menjadi kenyataan “ demikian paling tidak gambaran ungkapan para pengurus koperasi Kompak Sejahtera.

 

 

 

Pembagian Bantuan Bibit Sengon Dari SAMANTA

Penyiapan dan Distribusi Bibit dari Tempat Pembibitan ke Lokasi Penanaman
Penyiapan dan Distribusi Bibit dari Tempat Pembibitan ke Lokasi Penanaman

Penyiapan dan Distribusi Bibit dari Tempat Pembibitan ke Lokasi Penanaman

Tahun 2016-2017 Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (SAMANTA), melalui Program  “Kemakmuran Hijau” atau Kebun Bibit Desa (KBD), yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I, telah membagikan bantuan bibit sengon kepada kelompok tani bina’an serta masyarakat sebanyak 100.000 benih sengon.

Lokasi pembibitan ditempatkan di 4 Desa diantaranya: (1). Dusun Patre Desa Mangkung,

(2) Desa Pandan Indah, (3). Desa Kabul dan (4). Desa Batu Jangkih. Dari amsing-masing desa mendapatkan jatah bibit sengon sebanak 12.500 benih sengon.

 Hal ini bertujuan untuk mendekatkan program Samanta dengan masyrakat sekitar, serta para petani hutan tanaman rakyat (HTR),  melalui Program “Kemakmuran Hijau” MCA-I ini juga ikut sedikit banyak membantu melestarikan hutan tanaman rakyat agar lestari demi kepentingan kita bersama.

Tak Kenal Lelah Raut Wajah ibu-ibu dalam memikul bibit singon menggunakan Ember ke Lahan masing-masing

Tak Kenal Lelah Raut Wajah ibu-ibu lagi memikul bibit sengon menggunakan ember di bawa ke lahan masing-masing

“Pertemuan Asistensi Kelompok Usaha”

1
(foto Moh) " Pertemuan Asistensi Kelompok Usaha"

(foto Moh) ” Pertemuan Asistensi Kelompok Usaha”

Samanta NTB- sebagai rangkaian tindak lanjut kegiatan  melalui Program  “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I,  Pada hari senin dan Selasa tanggal 8 – 9 Mei  2017 yang lalu telah dilakukan kegiatan pertemuan asistensi kelompok usaha  di 2 tempat diantarana, Dusun Pemotoh Barat Desa Aik berik dan Dusun Lantan Daye Desa Lantan  Batu Kliang Utara Lombok Tengah.

Raut wajah para peserta antusias dan bersemangat dalam menghadiri pertemuan.  Dalam pertemuan ini tidak hanya sekedar duduk-duduk namun peserta juga ikut memberikan  pendapat didalam melakukan menyusun rencana kegiatan kelompok, namun juga para peserta diberikan pemahaman tentang Anggaran Dasar Rumah Tangga dan Standar Oprerasional (SOP). Disamping itu pemahaman akan pentingnya kerjasama, ketelitian, kekompakan dan keseriusan kelompok persiapan yang matang juga menjadi poin penting yang disampaikan pelatih pada kegiatan ini.

Dalam pertemuan tersebut terdapat 3 macam materi yang dibahas bersama-bersama antara lain (1) Pemantapan kelompok, (2) pembuatan Standar Oprerasional (SOP) dan Rencana Kerja Kelompok (RKK), dan (3) pinalisasi AD/ART kelompok. Pertemuan ini didampingi oleh Bapak Herman (selaku pendamping lapangan) dari SAMANTA.

Sasaran utama kegiatan ini adalah perempuan  dan anggota kelompok  tani yang berada di dua lokasi HKm yaitu Dusun Pemotoh Barat, Dusun Lantan Daye dan tim Samanta. Dalam pelaksanaannya jumlah peserta yang hadir di Dusun Pemotoh sebanyak 17 orang terdiri dari 3 laki-laki dan 15 perempuan. Sedangkan peserta yang hadir pada hari kedua di Dusun Lantan Daye  sebanyak 19 orang terdiri dari 1 laki-laki dan 18  perempuan.

Pelatihan yang difasilitasi oleh Samanta ini diharapakan dapat menjadi langkah awal masyarakat untuk mengembangkan perekonomian masyarakat. Di masa yang akan datang, masyarakat bisa menjadi pengusaha olahan makanan yang sukses. Sehingga dapat menaikkan taraf hidup masyarakat terutama para perempuan tani dan buruh tani di lokasi program MCA-I.

Menurut Ibu Hamdani (Ketua Kelompok SULI ASLI), “Nama baik dalam berkelompok tidak bisa dihargai dengan uang, jadi kita semua harus saling memperingati,kerjasama dan menjaga tali silaturahmi.”

“Lokakarya Pembentukan Kelompok Usaha”

IMG_6412
"Herman_ (Pendamping Lapangan) Memberikan Penjelasan pada Peserta Lokakarya"

Foto_”Herman_ (Pendamping Lapangan) Memberikan Penjelasan pada Peserta Lokakarya”

Pada Hari Senin dan Selasa Tanggal 10 – 11 April 217 yang lalau Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (SAMANTA), melalui Program  “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I, melakukan kegitan Loka Karya Pembentukan Kelompok Usaha dimana lokakarya tersebut dilakukan di 2 Desa diantaranya, Dusun Pemotoh Tengak Desa Aik Berik dan Dusun Lantan Daye Desa Lantan, Kecamatan Batu Kliang Utara Kabupaten Lombok Tengah.

Dimasing-masing desa peserta lokakarya sebanyak 30 orang yang berasal dari keluarga petani hutan kemasyarakatan di Wilayah Kecamatan Batu Kliang Utara, Lombok Tengah. Dalam pertemuan tersebut ada beberapa poin penting yang dibahas bersama di lokakarya pembentukan kelompok sebagai berikut, 1. Kepastian  Akses Control pengelolaan sumberdaya hutan, 2. Tata Kelola Hutan yang baik (good forest management) dan  3. Kemandirian Usaha Ekonomi.

Lokakarya pembentukan Kelompok Usaha yang ini menjadi salah satu strategi untuk optimalisasi proses-proses pemberdayaan perempuan (kaum hawa) yang harapannya, kedepan kelompok usaha inilah yang menjadi daya jungkit untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Untuk itu, diperlukan pendampingan yang optimal dan berkelanjutan dengan semata-mata agar kelompok usaha ini nantinya lebih berdaya, dari yang dulunya masyarakat kurang trampil menjadi meningkat lebih terampil dalam pengetahuan berkelompok, dari yang belum pernah berkelompok menjadi dapat bergabung bersama-sama dalam berkelompok, dari belum mampu menyuarakan hak-haknya menjadi mampu menyuarakan hak-haknya di dalam berkelompok.

Hal ini senada dengan konsep program “Kemakmuran Hijau” yang di lakukan oleh Samanta menurut Bapak Ecang selaku (Pendamping Lapangan), “pemberdayaan ibu-ibu sebagai cermin upaya untuk meningkatkan kemampuan suatu wilayah untuk mampu berbuat sesuatu dalam menjunjung harkat dan maratabat mereka dalam meningkatkan pendapatan ekonomi melalui lokakarya pembentukan kelompok usaha ini dan memiliki sikap tanggung jawab dalam berkelompok. (Moh_ samanta)

Proses Pembuatan Kripek Bersama Anggota Kelompok Usaha “TiTiaN RiNjAnI”

20170320_144731

(Foto/Muh/2017) Kelompok Usaha “Titian Rinjani”

Pada Hari Selasa, 21 Maret 2017_ Antusias ibu-ibu  Desa Lantan Batu Kliang Utara Lombok Tengah  Dalam Proses Pembuatan Kripek Pisang.

Sebagai rangkaian dari program “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I, sebagai salah satu rangakaina Kegiatan Samanta adalah pembentukan Kelompok Wanita Trampil (KWT) salah satu kelompok ibu-ibu yang diberi nama “TITIAN RINJANI”, tujuan utama dibentuk kelompok ini sebagai wadah tempat ibu-ibu menyalurkan bakat dan tempat saling berbagi ilmu yang mana sebagian ibu-ibu yang sebelumnya tidak punya kegiatan kesehariannya menjadi ada setelah dibentuknya kelompok Titian Rinjani ini kata (Ibu Miwarni) selaku ketua kelompok.

Menurut Ketua kelompok ada beberapa macam  jenis kegiatan yang dilakuakan Kelompok Titian Rinjani yaitu diantaranya, 1. Membuat kripek pisang. 2. Membuat kripek Talas 3. Membuat pisang sale. Dari tiga jenis usaha ini Merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan kemungkinan lebih dari 3 jenis usaha yang akan berkembang sejalan dengan waktu.

Kelompok Usaha Titian Rinjani ini dibentuk pada bulan Februari 2017 atas inisiatif para ibu-ibu beserta di dukung oleh LSM SAMANTA dan  baru berjalan kurang lebih 2 bulan dimana jumlah anggotanya sebanyak 16 orang termasuk ketua. Alhamdulillah Kelompok Titian Rinjani ini walaupun baru beberapa bulan dibentuk namun dari semanget para ibu-ibu ini sudah bisa memproduksi satu jenis produk yaitu Kripek Pisang .

Menurut salah satu anggota kelompok dan masyarakat setempat  sanget bersyukur dan berterima kasih kepada  LSM SAMANTA  yang sudah membantu kami hususnya masyarakat desa lantan  bisa dibantu dalam proses pembentukan Kelompok Usaha  Titian Rinajani ini.  Karena beberapa puluahan tahun  kalau saya secara pribadi  sangat menyayangkan semua hasil kebun di lahan HKm di Desa Lantan ini banyak di jual dalam bentuk mentah dan tidak pernah sampe dikelola  sampe menjadi barang yang siap di jual keluar desa, memang sebagian masyarakat ada yang sudah membuat kripek pisang tapi itu  sekedar cukup untuk dikonsumsi di tingkat keluarga.  

Dengan dibentuknya Kelompok Usaha  Wanita Trampil (KWT)  “TITIAN RINJANI” ini  menurut Bapak H. Harun Zain selaku (Kepala Desa Lantan ) sanget mendorong  degan terbentuk nya Kelompok Usaha Titian Rinjani ini, nanti apa yang masih kurang lengkap saya selaku Bapak Kepala Desa Lantan akan berjuang bersama-sama untuk memanjukan kelompok ini.

Kegiatan selanjutnya kedepannya menurut  Herman atau biasa di panggil Bapak Ecang selaku (Pendamping Lapangan) Kelompok ini masih banyak kekurangan dan kita akan berusaha bersama untuk saling melengkapi seperti contohnya “ Kelompok ini belum punya Proses Pengurusan P-IRT (Ijin Industri Pangan) dari  Dinas Kesehatan dan itu SAMANTA akan bantu. (muhizam-samanta)  

 

Pelatihan Kopi Sambung Di Lombok Tengah

"Peserta Melihat Langsung Pengupasan Kulit Batang Induk Yang Akan di sambung"
"Peserta Melihat Langsung Pengupasan Kulit Batang Induk Yang Akan di sambung"

“Peserta Melihat Langsung Pengupasan Kulit Batang Induk Yang Akan di sambung”

SAMANTA_ Pada tahun 2007 , kemntrian kehutanan mengeluarkan SK Penetapan Area kerja HKM seluas 1,800,09 ha , meliputi desa Aik Berik, Lantan, Karang Sidemen dan Seteling. Ke empat lokasi HKm tersebut berada di hutan lindung. Pada tahun 2009, Bupati Lombok Tengah memberikan Ijin Usaha Pemanfaatan HKm (IUPHKm) kepada Koperasi Serba Mele Maju desa Lantan seluas 337,33 Ha dengan jumlah anggota 599 orang petani. Sedangkan IUPHKm desa Aik Berik diberikan pada tahun 2010 kepada Kelompok Rimba Lestari seluas 480 ha dengan anggota 1,261 orang petani.

Sebagai rangkaian dari program “Kemakmuran Hijau” yang dilaksanakan oleh Samanta berkerja sama dengan Kemitraan dan didukung oleh MCA-I, Petani  HKm desa Aik Berik dan Lantan  mendaptkan pelatihan Kopi sambung. Dalam  pelatihan tersebut peserta diberikan materi tentang bagaimana menyambung kopi Lokal dengan  kopi unggul di lahan hutan dengan menggunakan sisitem kopi sambung, tetapi peserta juga diberikan pengetahuan dan keterampilan bagaimana caranya melakukan pemanfatan terhadap pohon kopi local  yang tidak produktif, yaitu dengan diberikan keterampilan bagaimana teknik melakukan kopi sambung untuk meningkatkan produktifitas tanaman kopi.(27/3/2017)

Kopi merupakan salah satu produk HHBK di areal HKm desa Aik Berik dan Lantan. Namun, tidak sedikit tanaman kopi petani tidak produktif. Mereka menanam di area HKm maupun di tanah milik. Sebagaian petani memilih untuk menebang tanaman kopi karena alasan tidak produktif “Kata Pak H. Hamdani sebagai ketua kelompok”. Mereka tidak mengetahui ada tehnik untuk meningkatkan produktifitas tanaman kopi, selain melakukan peremajaan kopi. Peremajaan kopi tentunya membutuhkan waktu cukup lama untuk menjadi sumber pendapatan anggota HKm.

Salah satu cara petani HKm Desa Aik Berik untuk meningkatkan produktifitas tanaman kopinya adalah tehnik kopi sambung. Tehnik kopi sambung dapat meningkatkan produksi biji kopi hingga tiga kali lipat dari kondisi awal. Tehnik kopi sambung juga dapat dipanen satu tahun sejak penyambungan dan akan berproduksi setidaknya selama 5 tahun sebelum dilakukan penyambungan kembali. Tehnik kopi sambung dapat dilakukan untuk tanaman kopi yang sudah berbatang besar dan tidak produktif dengan syarat kondisi cambium kayu kopi masih baik.

P_20170222_113741

H. Pauzi ” Memperlihatkan Hasil Sambungan Kopi Sambung”

“Wah pelatihan kopi sambung seperti ini akan memberi kontribusi pada outcome “Meningkatnya asset ekonomi masyarakat di lokasi-lokasi proyek” dan keluaran “Meningkatnya kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha pertanian yang berkelanjutan”. Kata pak Haji Pauzi salah satu peserta dari kelompok Rimba Lestari dengan antosiasnya sambil memperlihatkan hasil sambungan kopi sambung .

Setelah mencoba dengan melakukan praktek, peserta mempunyai kesan yang positif dan merasa bahwa tehnik kopi sambung ini sangat baik dan cocok untuk diterapkan di Kawasan HKm dengan kondisi lahan yang cukup bagus dan subur. Di akhir pelatihan peserta di bagikan bibit kopi sebagai rencana tindak lanjut yang nantinya rencananya bibit kopi yang dibagiakan dan disambungkan dilahan masing-masing kelompok .

Strategi Mewujudkan Perubahan Petani HTR & HKm Lombok Tengah

Hasil Pembuatan Teras
Hasil Pembuatan Teras

MoH Hizam ( Foto Hasil Pembuatan Teras)

SAMANTA Foundation – Sebagai rangkaian dari program ” Kemakmuran Hiaju” yang dilaksanakan oleh SAMANTA berkerja sama dengan kemitraan dan didukung oleh MCAI, Masyarakat Petani HTR  Desa Batu Jangkih dan Petani HKm Desa Aik Berik dan Desa Lantan melakukan kegiatan ” Pelatiahan Wanatani”  yang dilaksanakan di masing-masing desa. ( 12/3/2017)

Lombok Tengah memiliki hutan seluas 23,726 ha, terdiri-dari 11.453 ha hutan lindung, 3.300 ha hutan produksi dan 6.824 ha hutan konservasi.  Lahan kritis di kawasan hutan di Lombok Tengah mencapai sekitar 4,400 ha atau 18,5 % dari luas hutan (Dishut NTB, 2014).

Ada 4 desa lokasi proyek yang areal hutannya dalam kategori kritis, yaitu Kabul, Mangkung, Batu Jangkih dan Pandan Indah Keempat desa ini sudah memiliki ijin HTR sejak 2011 dan sebagian calon pengelola kemitraan kehutanan di hutan produksi. Sementara 2 desa lainnya, Aik Berik dan Lantan  merupakan area HKm di hutan lindung yang sudah mendapai ijin sejak tahun 2010.

Namun pengelolaan areal ijin HTR, HKm dan kemitraan kehutanan belum dikelola dengan optimal. Hal ini salah satunya disebabkan oleh tidak adanya pengetahuan tentang wana tani. Kegiatan pertanian di areal hutan dilakukan secara tradisional dan cenderung tidak produktif dan berkelanjutan. Kondisi hutan cenderung diorientasikan untuk kepentingan ekonomi (tapi tidak produktif), ketimbang mengkombinasikan tanaman pohon hutan dengan tanaman pertanian jangka pendek.

Secara konsep wanatani merupakan system pertanian yang mengkombinasikan berbagai jenis tanaman yang di tanam dalam satu lahan berbasis pada kehutanan.

Secara konsep system wanatani merupakan system yang sudah sering dilakukan dan di terapkan oleh para pendahulu kita dalam pengelolaan lahan pertanian ” Kata Amaq Dopel Selaku Ketua Koprasi Serba Maju Bersama”, namun kita sering kali melupakan, bahkan mengabaikannya, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pertanian yang terus meningkat, padahal system wanatani menjadi system yang efektif dan sangat menguntungkan dalam berbagai aspek yaitu apsek ekonomi, ekologi maupun aspk sosial.

Dalam  pelatihan tersebut peserta diberikan materi tentang bagaimana mengelola lahan hutan dengan menggunakan sisitem pertanian wanatani, tetapi peserta juga diberikan pengetahuan dan keterampilan bagaimana caranya melakukan pemuliaan terhadap lahan yang ada, yaitu dengan diberikan keterampilan bagaimana teknik melakukan konservasi terhadap tanah dan air supaya lahan atau tanah tidak mengalami kerusakan, tidak terjadi erosi, banjir, longsor dan bagaimana menjaga agar kesuburan tanah tetap terjaga.

Pada hari pertama dilakukannyan pelatiahan ini,  peserta merasa sanksi untuk bisa menerapkan system pertanian wanatani, karena dalam anggapan peserta, system ini membutuhkan tahapan-tahapan yang cukup lama dan cukup rumit, di samping itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga.

Pada hari kedua, peserta diberikan kesempatan untuk mempraktekkan bagaimana melakukan konservasi terhadap tanah. Peserta di latih teknik menggunakan alat sederhana  untuk menentukan titik kuntur lahan yang miring dengan segi tiga ‘A’ dan ondol-ondol, tujuannya adalah untuk membuat teras supaya lahan yang miring tidak mengalami erosi, mengurangi aliran air dipermukaan dan menjaga kesuburan tanah.

Alat sederhana untuk menentukan titik kuntur lahan yang miring dengan segi tiga ‘A’

Alat sederhana untuk menentukan titik kuntur lahan yang miring dengan segi tiga ‘A’

“Wah, teknik ini bagus dan sangat cepat dan sebenarnya teknik ini sudah kami lakukan, hanya saja tidak menggunakan alat sperti ini, dibuat asal begitu saja”, kata amaq kohal salah satu peserta dari kelompok bunga hijau dusun peperek desa batu jangkih dengan antosiasnya sambil menggali mempraktekkan cara pembuatan teras.

Setelah mencoba dengan melakukan praktek, peserta mempunyai kesan yang positif dan merasa bahwa system pertanina wanatani ini sangat baik dan cocok untuk diterapkan di kawasan Hutan produksi dengan kondisi lahan dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi.

Di akhir pelatihan peserta di bagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing diberikan pengetahuan bagaimana melakukan perencanaan supaya pengelolaan hutan menjadi baik dan mempunyai hasil yang meningkat dengan tanpa mengganggu tanaman kehutanan dan hasil dari diskusi kelompok tersebut dijadikan sebagai rencana tindak lanjut yang nantinya akan dilaksanakan oleh kelompok masing-masing. (Moh Samanta)

Gawat Hutan Sekeper Dijarah Pemerintah Gak Tahu

Cukup Memprihatinkan : Seperti inilah kondisi hutan Sekeper di Desa Santong, Kec. Kayangan, Lombok Utara Beberapa Pohon ditebang oleh para pelaku illegal logging.

Kondisi Hutan Sekeper di Desa Santong, Kec. Kayangan Lombok Utara

Kondisi Hutan Sekeper di Desa Santong, Kec. Kayangan Lombok Utara

Hukum & Kriminal

Aparat penegak hukum dan pemda memeriksa sejumlah usaha pengelola kayu yang ada di wilayah Narmada dan Gunung sari, Lobar

Aparat Penegak Hukum & Pemda Tangkap Pengelola Kayu Haram

RATMAYU, Pioner Perubahan

12189885_876359872460920_8824402482064198768_n
_mg_0377jhkjh

Ratmayu, Kadus Tumpang Sari

Wajah Ratmayu me­nyinarkan kebaha­giaan dan kebanggaan. Bapak satu putri ini te­lah berhasil mengajak warga Dusun Tumpang Sari, Desa Mekar Sari bermusyawarah memperbaiki pipa air minum. Ini salah satu pencapaian kerja sebagai Kepala Dusun (Kadus).
Tahun 2011, dia terpilih menjadi Kepala Dusun Tumpang Sari. Sejak diangkat menjadi kepala dusun Tumpang Sari, Ratmayu tidak pernah berhasil mengajak warganya untuk gotong-royong. Dari sejak awal Ratmayu merasakan ada yang salah de­ngan permasalan di dusunnya, tetapi selama ini Ratmayu mengalami ke­sulitan harus memulai dari mana untuk menemukan akar permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya. Sebagai kepala dusun, dia adalah aktor kunci penghubung Program Peduli yang dilakukan bersama Samanta yang bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat atas pelayanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.